Terapi


Terapi

Ayah Alif baru saja pulang dari luar kota. Setelah meletakkan barang bawaan dan mencuci kaki, bapak-bapak yang sudah duduk lama di bus itu merebahkan badannya di kasur. 

Biasanya, ini waktu yang pas untuk memijat punggungnya. Tapi apa daya, setiap kali si laki-laki besar mau dipijat, selalu saja ada si laki-laki kecil yang berlari ngepot lalu berguling-guling ke kasur menyerobot antrian, minta dipijat duluan. 

"Alif mauuuuuuuu! Alif mau dipijat duluuu, Ibuuuu! Punggungnya Alif juga sakiiit, pundaknya, pundaknya jugaaa, Ibuuu!" Demikian teriakannya memekakkan telinga dan batin ibunya. Alamat buka panti pijat ini. 

Karena itulah alat terapi punggung jadi pilihan biar saya enggak kerja rodi. Sebuah sabuk lebar dan pengganjal punggung yang di dalamnya tersemat bebatuan terapi. 

"Ini mana yang pengganjal punggungnya?" tanya ayah Alif, sebab dia hanya menemukan sabuk terapinya saja. 

Saya, belum apa-apa, sudah ketawa duluan. Mau ngejawab tapi kok terbayang-bayang kelakuan anak enam tahun itu beberapa waktu lalu. 

Siang itu, Alif pulang sekolah dengan wajah lelah. Dia mengaku pusing. Gimana enggak pusing. Sejak pagi dia sudah lari-larian. Bahkan sejak subuh, dalam perjalanan ke masjid, dia bisa lari kalau tidak saya pegangin kuat-kuat. 

Beruntung dia punya ibu yang kalem, elegan, baik hati, dan rajin menabung. Saya tidak mengungkit soal tingkah lakunya yang seperti komedi putar. Saya hanya mempersilakan  tidur siang di tenda kesayangannya. Alif pun menurut. 

Setelah menyimpan peralatan sekolah dan berganti baju, anak yang mengaku pusing tadi berjalan ke tenda sambil menenteng pengganjal punggung. 

"Buat apa itu? Apa punggungnya Alif juga sakit?" Saya penasaran. Apa iya ada anak kecil sakit encok. 

Tapi Alif serius. Dengan segala pengetahuannya selama enam tahun kehidupan, dia menjawab tanpa ragu. 

"Kan Alif pusing, Ibu. Ini kan ada obatnya yang bisa untuk punggung itu. Jadi, ini mau ditaruh di kepala saja biar tidak pusing!"

😳

Probolinggo, 28 Oktober 2023.

Komentar

Postingan Populer