Telur Ceplok


Telur Ceplok

Sejak kecil, saya suka sekali makan telur ceplok. Hampir setiap hari Ibu memasak itu untuk sarapan. Ritualnya, makan putihnya dulu, baru kuningnya. Save the best for last (Bagian terenak untuk dimakan belakangan).

Waktu kecil, pada zaman kompor masih kompor sumbu dengan minyak tanah, saya yang masih baru belajar masaknya dikit-dikit, mencoba masak telur ceplok di rumah Budhe di Malang.

Kompor Budhe terletak di lantai begitu saja. Ada kursi kayu kecil yang biasa dipakai untuk duduk sambil masak. Waktu itu masih pagi sekali. Bisa dibilang dini hari. Waktu yang tepat untuk masak telur ceplok sendiri.

Kompor saya nyalakan, pakai tusuk sate yang dicelupkan dulu ke mintak tanah, lalu di-korek. Alhamdulillah aman. Tidak seperti sekarang di rumah, yang kalau nyalakan kompor gas, tetangga se-RT bisa bangun. 

Saya menyiapkan wajan dan menuang minyak goreng, lalu menunggu penggorengan panas. Hingga tibalah saatnya saya menggoreng telur. 

Dari ketinggian satu meter dpw (di atas permukaan wajan), saya memecahkan telur menggunakan pisau. 

Sukses. 

Seuprit kuning telur berhasil saya goreng. 

Save the best for last. From the beginning. 

😑

Lamongan, 19 Oktober 2022.

Komentar

Postingan Populer