Style
Style
Bagi saya, soal pakaian Alif, tidak akan terlalu masalah bagaimanapun seleranya.
Setidaknya, saya kira begitu, dulu.
Seberapa meresahkannya, sih, kemauan anak dalam berpakaian? Seaneh-anehnya, palingan cuma minta pakaian favoritnya yang itu lagi itu lagi. Baju Optimus, baju BoBoiBoy, atau baju polisi. Biarlah kayak enggak salin, seolah baju cuma tiga helai itu.
Saya pribadi sudah siap dengan segala risiko bisik-bisik anak tetangga. Meskipun kasus terakhir bukannya bisikan, sih, tapi sudah teriakan. Lumayan bikin terkikik-kikik sendiri mengingat bagaimana celetukan blak-blakan anak orang.
Nah, beberapa hari terakhir, meski di dalam rumah, Alif sedang senang-senangnya bergaya necis. Baik kaus maupun kemeja, dia memakainya dengan dimasukkan ke dalam celana. Lalu dia pakai juga ikat pinggang gambar spiderman, padahal celananya celana biasa yang nggak ada tempat sabuknya. Mungkin inilah yang disebut cinta itu buta. Sudah jelas nggak ada tempat di hatinya, masih dipaksa aja.
Belum puas, dia masih pakai jam tangan dan topi andalannya. Tidak lupa pistol-pistolan yang dia selipkan di sela ikat pinggang.
Saya memandanginya dengan tatapan nanar. Lama saya menimbang-nimbang mau meruqyah atau sekalian pura-pura tidak kenal. Akhirnya saya biarkan, asal tidak keluar rumah dengan tampilan begitu. Meskipun rasanya jadi seperti tinggal di kota Vedas.
😏
Lamongan, 9 Oktober 2022.
Komentar
Posting Komentar