Ritual
RITUAL
Pukul sebelas siang, Alif belum juga pulang. Saya mengintip dari jendela, melihat ibu-ibu berlalu-lalang menjemput anaknya.
Sampai jalanan depan sepi, Alif masih belum pulang. Saya dilema, antara menunggu atau nekad menjemput tapi risiko diusir. Diusir anak sendiri.
"Mbak, Alif sedang apa di sekolah?" tanya saya pada seorang Ibu yang lewat sambil menuntun anaknya, teman sekelas Alif.
"Masih mau pakai sepatu, Mbak," jawabnya.
Saya berterima kasih dan memilih menunggu saja.
Sampai Azan Zuhur, anak lelaki saya itu belum juga pulang. Sambil pasang muka galak demi tidak diusir, saya berangkat menjemput bocah yang sekolahnya tepat di depan, membelakangi rumah.
"Alif, kok, ndak pulang-pulang?" tanya saya, ketus, setibanya di sekolah.
Dia sedang memasang sepatu, sebagaimana info tadi.
"Kenapa Ibu ke sini? Alif masih pakai sepatu," jawabnya santai.
Yes, saya tidak diusir!
Melihat saya, Bu Guru datang menghampiri. Saya menceritakan keanehan soal Alif yang katanya sedang memakai sepatu sejak pukul sebelas tadi. Bu Guru tersenyum.
"Masyaallah, Mbak. Alif ini ya, kalau mau pakai sepatu, dia pasang kaos kakinya sambil menikmatiiii sekali. Badannya berguling di lantai, kakinya diangkat tinggi sambil masang kaos kakinya pelan-pelan. Seperti menghayati sekali." Bu Guru tertawa setelah mengakhiri ceritanya.
Saya ikutan tertawa. Dalam hati beristighfar, lalu bersyukur. Alhamdulillah, saya tidak harus berada di sana saat dia berbuat begitu. Sudah bener saya tidak perlu menjemput.
😌
Lamongan, 27 Oktober 2022
Komentar
Posting Komentar