Reka Adegan


Reka Adegan

"Ibu, kenapa Ibu selalu bikin gambarnya Alif?" tanya anak enam tahun itu ketika memergoki gambar hasil desain Canva buatan ibunya.

Saya yang tadinya fokus scroll beranda, seketika menoleh ke Alif. Merasa takjub. Apa gak bosen dia nanya hal yang sama sampai puluhan kali begini?

Sebelum-sebelumnya, sudah sering Alif kepo soal gambar cover catatan harian yang saya buat. Yang kenapa ada namanya dialah, kenapa ada gambarnya dia, kenapa ada gambar dia digendong ayahnya. Yang terakhir ini bikin Alif terinspirasi untuk reka adegan.

Jadi, demi memuaskan keingintahuan anak sendiri, kali ini saya memberikan jawaban yang berbeda dari biasanya.

"Ibu gambar Alif terus, karena Ibu kan sayang sama Aliffff." Lanjut cium pipinya. Yang segera dia usapin bekas cium tadi sambil tersipu-sipu.

Saya cuma bisa ngakak lihat Alif yang langsung diam dan enggak nanya-nanya lagi. Belum tahu dia kalau ibunya jago ngegombal. Dari yang puitis, filosofis, romantis, sampai yang njiji'i macam: 'Jangankan ketemu kamu, sandal ku jejer sandalmu, aku sudah bahagia.'

Tapi bukan Alif kalau enggak mempraktikkan apa pun yang dia pernah lihat. Begitu ayahnya di rumah, dia minta digendong di pundak.

Awalnya biasa aja pas baru proses naik. Si ayah duduk di kasur sementara Alif mengalungkan kedua kaki di pundak ayahnya. Tapi begitu ayahnya berdiri, dia teriak-teriak heboh sambil memeluk erat kepala si ayah.

"Aayaaahh! Gimana ini, Ayahh! Jangan tinggi-tinggi! Ini Alif sudah mau kena atap, Ayah! Huaaaa!"

Mungkin dia lupa kalau punya ayah setinggi galah.

😆

Probolinggo, 13 Oktober 2023.



Komentar

Postingan Populer