Menunggu


Seorang lelaki tua berbaring di atas balai bambu di depan kamarnya. Sebuah kamar sekaligus tempat tinggal khas kos-kosan berukuran standar. Standar orang miskin.

Sudah sebulan ini, setiap pagi dia hanya bisa meletakkan punggung mengkilatnya di sana, bersama secangkir kopi untuk menemani kekosongannya. Wajah yang penuh kerutan itu terlihat letih oleh perjuangan menyambung hidup. Bahkan, lebih dari itu. Lelaki itu sempoyongan menegak-negakkan harkat dan martabatnya sejak istrinya sendiri mengusirnya.

Pengusiran itu membawanya menemui saudara tuanya untuk menumpang tinggal. Dengan sedikit melucu dan pura-pura marah, alih-alih terpuruk, dia meminta tempat berteduh. Hari-harinya dipenuhi kesibukan memulung barang bekas. Hanya itu yang bisa dilakukan lelaki tua, kurus, tak berijazah, tak bertanah, dan baru saja kehilangan harga diri itu.

Namun, tua tetaplah tua. Tenaga yang tidak seberapa itu akhirnya habis juga. Napasnya tinggal sehela dua hela. Dia meminta dipanggilkan kedua anaknya. Ke manakah gerangan rindunya anak-anak yang masih berbapak itu? Kenapa tak kunjung menyua?

Malam-malam lelaki tua itu habis untuk berbicara sendiri. Dia sering bercerita bahwa dirinya didatangi Khidir. Keluarga saudara tua itu pun senantiasa memberikan makanan, pakaian, dan pelayanan yang layak. Tetapi, tidak ada yang bisa menggantikan kasih sayang keutuhan keluarga sendiri.

Ahad siang itu, anak perempuan si lelaki tua datang. Sementara anak yang lain, anak lelakinya, entah apa yang membuatnya enggan. Benarlah apa yang sering dikatakan orang bahwa kasih anak sepanjang galah.

Si anak perempuan, sejak datang, langsung sigap merawat bapaknya. Dia menanyai apa-apa yang terasa sakit dan perlu dipijat dari tubuh renta si lelaki tua. Sebentar kemudian, lelaki tua itu kembali makan siang, demi merasai lembutnya suapan anak perempuannya. Setelah cukup lama, si anak pun pamit sebentar untuk melaksanakan Salat Zuhur yang belum sempat ditunaikan. Dia pun membiarkan bapaknya berbaring di balai bambu ditemani secangkir kopi.

Selepas salat, si anak perempuan terlelap karena lelah. Belum lama dia tidur sambil memeluk putri kecilnya yang baru satu tahun, dia harus terbangun oleh suara cangkir yang jatuh dan pecah. Cangkir kopi lelaki tua itu.

Perempuan itu pun teringat kepada bapaknya. Dia segera memeriksa lalu tergugu sendirian di teriknya siang menjelang sore. Bapaknya telah puas dengan kehadirannya. Dia berpulang menghadap Tuhan. Dia lelaki tua yang merindukan kerinduan anak-anaknya. Tampaknya Izrail tak memberinya perpanjangan waktu demi menunggu bungsunya yang seperti tidak menyambut rindu.

Lamongan, 2 Oktober 2022.


Komentar

Postingan Populer