Kayu Manis
Kamu duduk menyamping, di boncengan vespa legendaris milikku yang sudah pudar warnanya, tapi masih berkilauan matamu setiap melihatnya keluar dari garasi. Sebuah sepeda motor yang mana jika kamu melihat motor yang mirip ini di jalan yang kita lalui, kamu akan memekik, tidak terlalu keras, seolah menemukan foto lama yang sarat kenangan.
Kita tiba saat sore masih terang di kedai bambu langganan. Saat semangkuk setup pisang dan salak dihidangkan, gerimis turun perlahan. Aku keluar memindahkan motor agar tidak kehujanan. Apa lagi saat ini aku sedang bersamamu, yang kutahu enggan terbasahi pakaiannya, aku lebih siaga. Tak ingin cemberut terulas di wajahmu, meski kutahu itu sudah lebih jarang ketimbang dulu.
Ritualmu tidak pernah berubah. Kamu menghirup harum uap setup yang beraroma kayu manis. Setelahnya, secara bertahap kamu merasai kuah segarnya, lalu pisang dalam potongan besar. Tanpa sadar, aku mengulang gerakanmu seperti kamu mengikutiku setiap sembahyang. Saat sendokmu menciduk potongan salak, aku sedikit khawatir, takut sakit gigimu kambuh lagi sebab salak itu sewaktu-waktu dapat menyelip di celah gigi renggangmu. Tapi aku urung mencegah karena wajahmu terkembang oleh semringah bahagia, bergantian menatapku dan mangkuk di depanmu.
Kamu begitu menikmati hidanganmu, tanpa menyadari pemilik kedai sedang memperhatikan kita. Dia memperhatikanku yang memperhatikanmu. Aku kembali menyuap setupku sendiri demi menyadari cengiran lucu sang pemilik kedai kepadaku. Kawan lama itu sedang meledekku. Dia tidak mengucapkan apa pun, tapi aku yakin ingatannya berkelana pada masa saat kami muda dulu.
"Setup pisang ini sebenarnya sudah lezat tanpa perlu kau tambahi kayu manis," ucapku kala itu, di sore yang basah seperti sekarang.
"Banyak yang suka, Mad. Lagi pula, begini lebih terasa eksotis dan autentik," jawabnya berlagak.
"Aromanya terlalu kuat mendominasi." Aku menambahi.
"Karena itulah. Nanti saat orang memakan setup yang tidak seperti di sini, mereka akan rindu. Dan jika orang menemukan yang rasanya seperti ini, mereka bisa jadi akan rindu kemari, atau minimal ingat."
Pembahasan soal kayu manis itu berhenti di situ. Aku dan kawanku sama-sama menyadari ketidaksukaanku terhadap kayu manis.
Aku tersenyum sendiri mengingat itu. Kembali aku menyendok makananku, sebelum kamu mendapatiku melamun dan aku tidak bisa tidak jujur jika nantinya ditanyai.
Di kesempatan yang sudah tidak sering kita lakukan seperti sekarang ini, sebenarnya waktu yang tepat untuk kita berbincang panjang. Seperti biasa, kamulah yang akan bercerita lebih banyak dan aku mendengarkan. Tapi gerimis di luar membuat suara kita timbul tenggelam. Sementara kamu terlihat asyik menekuri setup milikmu selagi hangat. Maka sambil melihatmu, sambil juga menikmati setup milikku, aku mengenang perjalan panjang yang telah kita lalui.
Kamu dulu tidak bisa memasak. Dan masakan pertamamu yang berhasil, selain tumis-tumisan, adalah setup pisang seperti yang kita nikmati sekarang. Kutekankan, setup pisang beraroma kayu manis. Jika sedang banyak uang, kamu biasa menambahkan salak ke dalamnya. Katamu, Mbah Putri-mu senang membuatkanmu setup salak saat kamu kecil dulu.
Akan tetapi, dulu, memang kita nyaris tidak pernah banyak uang. Itu salah satu yang membuat kita mudah saling marah dan menyalahkan. Berat sekali, jika saja pada akhirnya kita tidak menemukan jalan untuk bertahan, apa pun alasannya. Bukan hatiku tidak pedih saat tidak dapat menyediakan apa pun selain nasi di meja makan. Atau terkadang ada lauk, meski sekadar sayur bayam, tapi justru kita tidak punya nasi. Lebih menggemetarkan lagi saat sudah tidak apa pun di dapur kita selain kayu manis kering yang masih wangi. Apakah kayu manis tidak pernah kehilangan wanginya?
Berbekal kepingan uang receh, dengan sedikit menahan malu, kamu berangkat ke warung membeli seperempat gula. Kamu bilang kita masih bisa membeli gula untuk menyeduh minuman hangat dengan campuran kayu manis. Kamu kembali, dengan gula yang dijanjikan tadi dan sesisir pisang hijau setengah matang pemberian pemilik warung. Itulah kali pertama kamu membuatkanku setup pisang beraroma kayu manis.
"Buatlah seperti yang paling kau bisa dan inginkan, Minah," pesanku sebelum kamu membawa bawaanmu ke dapur.
Aku tidak menyukai kayu manis. Tapi saat itu, tidak ada hal lain yang bisa kulakukan untuk membuatmu sedikit lebih senang selain dengan itu. Andai kamu tahu, aku nyaris menangis saat melihat matamu berbinar menyajikan semangkuk setup hangat yang kita nikmati berdua. Kita bahkan makan berbalapan, saking laparnya.
Kamu yang tidak tahu apa-apa perihal aku dan kayu manis, sejak itu, mulai beranggapan bahwa aku sangat menyukai masakan itu. Kamu mulai sering membuatnya, paling tidak, dua minggu sekali. Atau mengajakku ke kedai ini sembari menikmati suasana sore. Dalam pendapatmu, setup di kedai ini lebih enak dari buatanmu.
Tapi tidak begitu bagiku, Minah. Aku paling menyukai setup yang dimasak oleh tanganmu sendiri yang kini semakin renta. Aku bisa membantumu mengupas pisang atau mengangkatkan sepanci penuh setup panas buatanmu dari kompor. Aku mulai menyukai kayu manis sejak menghirup aromanya dan kenyang bersamamu kala itu. Aku sudah terbiasa denganmu.
Jika kau selalu teringat oleh masa kecilmu setiap memakan setup, terutama di sini. Jika orang-orang akan menjadi rindu pada kedai ini setiap kali mereka menemukan setup di mana pun berada. Maka akulah yang selalu teringat kamu setiap aroma kayu manis dan segarnya setup menyambangi penciumanku. Akulah yang akan teringat kamu di mana pun aku mendapati setup.
Jika setup yang kutemukan beraroma kayu manis, aku akan menikmatinya. Jika tidak beraroma kayu manis, maka aku pasti akan merasa janggal seperti saat sedang tidak bersamamu. Entah kenapa semesta mengaitkanmu dengan kayu manis.
Kita masih diam. Gerimis semakin deras. Aku sudah melamun lama. Hidanganku sudah tak bersisa. Tapi mangkukmu masih berisi seperempat. Tentu aku tidak heran sebab terbiasa melihatmu menikmati makanan sedemikian lama.
Aku terbiasa denganmu. Entah bagaimana jika salah satu dari kita berpulang kepada Tuhan lebih dulu. Gelisah yang kurasakan beberapa hari ini, seolah salah satu dari kita akan pergi. Entah kamu, atau aku.
Kita sama-sama menua. Kuharap bisa melihat dan membahagiakanmu sedikit lebih lama. Aku meridaimu kapanpun kita dipisahkan mati. Hanya saja, Minah, ke mana akan kucari aroma kayu manis seperti yang biasa menguar dari setup buatanmu, sementara tidak pernah kutemukan satu pun yang membuatnya persis sepertimu?
Lamongan, 20 November 2022
Komentar
Posting Komentar