Imajinasi Huruf Hijaiyah
Jelang usia tiga tahun, dulu, Alif sudah belajar mengaji. Sekadarnya dan semaunya. Tentu saya harus sangat bersabar. Bukan soal dia bisa atau tidak bisa, tapi....
"Ibu, ini 'ain-nya seperti cupitnya kepiting, Ibu!"
"Ini huruf sin seperti tangan yang begini ...." Dia mendongakkan telapak tangan membetuk sudut siku, lalu meregangkan jarinya seperti cakar. Di mata saya itu lebih terlihat seperti patung lambang bank jatim Probolinggo.
"Ibu, kenapa huruf shod itu begini?" Dia melongokkan kepalanya ke depan. Seperti berpantomim.
Bahkan namanya sendiri pun adalah huruf pertama hijaiyah. Maklum, anak pertama. Berikutnya tinggal melanjutkan saja.
Nah, dari setiap huruf dan rangkaian huruf di buku jilid satu, mengalirlah cerita-cerita yang dihubung-hubungkannya dengan nama teman-temannya, benda-benda, atau malah berujung pertanyaan yang tidak ada ujungnya.
Kegiatan mengaji satu halaman bisa-bisa berjalan sampai satu jam.
Kalau di luaran sana biasanya muridlah yang mengantuk ketika ngaji, di sini sayalah yang menguatkan diri agar tidak sampai kami tiba-tiba beda alam.
Lamongan, 31 Oktober 2022.
Komentar
Posting Komentar