Iklan Favorit


Iklan Favorit

Di rumah, sengaja tidak disediakan televisi. Jika Alif ingin menonton sesuatu, maka saya akan mencarikan, menontonnya lebih dulu untuk menilai kelayakan konten,  baru memberikannya. Itu pun masih dibatasi jam nontonnya.

Sesekali, ketika sedang main ke tempat mbahnya, barulah Alif menonton tv. Itu pun tidak selalu. Dia sendiri punya banyak hal yang bisa dilakukan di sana. Bermain lego, mewarnai, merawat tanaman bersama ayahnya, menangkap ayam, menangkap Harun Masiku.

Saya? Wah, tugas saya mulia sekali, yakni mengawasi. Cukup menonton kegaduhan, jadi penonton bayaran yeye lalala, atau jadi cheerleader yang bawa rumbai-rumbai. Pokoknya saya kerja keras memeras keringat dan mengosongkan toples cemilan.

Nah, sore itu, Alif nonton TV bareng sepupunya. Saya sih enggak nonton. Seperti yang sudah saya sampaikan: mengawasi. Mengawasi tv.

Mereka nonton acara perbudakan. Kisah due budak yang suke sangat kejar-kejar ayam dan buat Kak Ros marah. Pas iklan, dengan bijak, Alif langsung skip chanel lain. Tombol di remot digilir semua dari nomor satu sampai habis chanel. Sampai ketemu sebuah saluran yang sedang menayangkan iklan yang, kata si ayah, Alif suka sekali. Kebetulan ayahnya lewat pas si anak kekeuh enggak mau ganti chanel meski sudah didemo orang sebataliyon. Enggak guna memang pengawasnya.

Sering saya melihat anak kecil yang suka menonton iklan market place, terutama kalau sedang event tanggal cantik. Atau iklan jajanan dan produk anak semacam sabun atau sampo. Pokoknya yang lucu-lucu, warna-warni, dan menggemaskan. Kalaupun ada yang oleng yang palingan ya iklan sosis.

Sayangnya, anak saya beda. Entah DNA siapa yang nyelip di kromosomnya. Dia anteng banget, fokus menyimak sampai enggak gerak, TV dikuasai sendiri, hanya demi iklan obat herbal untuk saraf otak yang menampilkan gambar otak dengan saraf-sarafnya dan cara kerjanya, yang warnanya gitu-gitu aja. Saya yang anak IPA aja males lihatnya.

Si ayah cengar-cengir, lepas tangan, lalu ngacir. Si sepupu beralih main hape. Saya sendiri serba salah. Maksud hati ingin memberi kebebasan untuk memilih, tapi mohon maaf, apalah daya, dari bayi sampai emak-emak, selera saya masih sama: film kartun.

Dengan penuh kecermatan, bersiap memcuri kesempatan, saya mengganti chanel seketika saat iklan itu habis. Enggak papa, lebih baik kita kembali menonton episode yang hampir seluruh adegan dan dialognya sudah kita hapal itu dari pada mantengin iklan obat yang kadang-kadang suka halu dan mengandalkan testimoni. Yang kalau indikasinya cuma suplemen, tapi testimoninya bisa sampai untuk menyembuhkan kangker. Luar biasa.

😌

Lamongan, 1 Oktober 2022.

Komentar

Postingan Populer