GOODTIME


"Loh, Ibu!" Alif terpekik melihat ibunya sedang memunguti jemuran yang jatuh. Dia baru saja datang dari luar bersama ayahnya.

"Ayah!" teriaknya. Dia berlari menyusul ayahnya di depan sembari menjelaskan kondisi ibunya. "Jemuran Ibu jatuh, Ayah!"

Saya tidak menyangka dia akan sepanik itu. Padahal, biasanya, untuk anak seusia dia, perkara jemuran bukanlah urusan yang perlu dipusingkan.

Saya sendiri merasa kesal, sedih, dan panik. Jemuran yang jatuh tidak semua. Hanya yang saya sematkan di jemuran kincir pakaian bayi yang sudah dipakai sejak Alif lahir dulu. Wajar jika sudah waktunya rusak. Meskipun sebenarnya, bukan sekali-dua kali Suami memperingatkan agar berjaga dengan tidak memberati jemuran itu dan memberi alas di bawahnya, tapi saya tidak melakukannya. Sore itu, satu persatu pakaian kecil saya punguti dan bilasi dalam diam.

"Ibu tenang, ya. Ini Alif sudah panggilkan Ayah," ucap Alif.

Tidak lama, si ayah mendatangi kami. "Sudah, ditinggal saja. Biar tak urus."

Tanpa kata, saya berdiri dan meninggalkan jemuran yang baru setengah saya bereskan. Alif mengikuti saya masuk ke dalam dan duduk bersama di tikar ruang tengah.

Rasanya kecewa sekali. Pakaian yang susah payah dicuci, dibilas, dijemur, dan sudah setengah kering tiba-tiba saja kotor lagi dan otomatis harus dicuci lagi. Saya diam demi menahan emosi, sekaligus menata hati.

"Ibu, ini buat Ibu." Alif mengulurkan sebungkus Goodtime Rainbow yang sudah lama diincarnya. Baru sore itu dia mendapatkannya karena jarang ada di toko sekitar. Itu pun hanya beli satu, tapi jajanan berharga itu malah diberikan kepada saya.

Saya nyaris menangis diperlakukan seperti itu. Semua kekesalan, kesedihan, dan kemarahan menguap di udara,  memanasi kedua mata.

"Buat Alif saja. Kan, itu kesukaannya Alif," tolak saya.

"Tidak apa-apa. Buat Ibu saja. Ibu jangan sedih, ya." Dia memaksa. Tangan kecilnya menaruh Goodtime itu begitu saja di pangkuan saya. Diambilkannya saya minum, lalu mengelus punggung seperti saat saya menenangkannya. Padahal saya bukan tidak pernah memarahinya di saat dia salah. Pernah, meski tidak selalu begitu. Tapi entah kenapa, di saat seperti itu, alih-alih mengomel sebab itu semua memang salah saya, dia justru memilih memperlakukan saya dengan baik.

Lamongan, 12 Februari 2023.


Komentar

Postingan Populer