GANGGUAN
Gangguan
Suatu hari, terjadi hal ganjil di warung getuk milik Ibu mertua. Saat itu, si kecil masih belum setahunan usianya. Keganjilan itu bermula dari terdengarnya suara ledakan pada tengah malam yang arahnya dari halaman warung. Sejak itu, warung getuk Ibu sepi. Tidak sebungkus pun getuk atau meniran terjual. Bahkan beberapa orang sampai bertanya kenapa warung Ibu selalu tutup, padahal Ibu tidak pernah libur berdagang.
"Nanti tak minta bantuan Mbah itu," ucap Ibu siang itu.
"Ndak usah, Buk. Nanti saja tak coba bantu." Saya berusaha mencegah.
"Nanti kita bisa tahu, Nduk, siapa yang ngirim. Biar dihilangkan itu gangguannya."
"Tidak usah, Buk. Nanti kita tirakati sama-sama, minta sama Allah. Ndak tahu orang yang ngirim ya ndak pa-pa. Belum tentu juga." Saya mengakhiri rundingan.
Selepas ashar, saya pergi ke balai desa untuk ikut kelas bermain balita diantar Suami. Setibanya di sana, saya langsung turun dan berpamitan, lalu masuk. Saat baru saja melepas sandal, saya tidak sengaja melihat perempuan duduk sambil menatap suami saya di kejauhan. Lama sekali. Tampak ayah Alif sedang sibuk dengan ponselnya.
Bukan sekali saya melihat orang itu bersikap begitu. Tapi sampai kali itu pun saya hanya diam dan tidak mempedulikan hal itu hingga acara selesai. Bahkan di rumah, tak sekali pun saya membahasnya. Sekadar ngobrol dan cerita-cerita seperti biasa dengan Ibu mertua.
Sambil menonton TV menemani Ibu membersihkan kelapa yang sudah dikupas, saya berbasa-basi, "Oh, iya, Buk, yang tadi siang itu, Mbah siapa namanya? Orang mana?"
🙃
Lamongan, 8 Juni 2022.
Komentar
Posting Komentar