Dongeng untuk Alif
Sejak dulu, saya suka heran kenapa Alif selalu beda respon kalau ke saya. Enggak kayak kalau ke ayahnya. Bisa-bisanya dia menganaktirikan ibunya sendiri dibanding ayahnya. Padahal yang jadi anak kan dia.
Ketika sama ayahnya, Alif menjelma menjadi bapak-bapak kw super. Mandi sendiri enggak pake ngeluh, enggak pake main air. Handuk langsung digantung. Bangun tidur tanpa rewel, tanpa simulasi perang dunia. Ngambil pakaian di lemari enggak sampai ngerubuhin tatanan. Makan sendiri, pakai baju sendiri, sisiran sendiri. Dan tidak ketinggalan, kalau difoto selalu angkat jempol.
Giliran sama saya, lagaknya udah kayak yang mulia baginda berbulu: kucing lucu rumah sebelah. Bawaannya merengek mulu. Makan maunya disuapin, mandi dimandiin, tidur digarukin. Nyisain gaya kalau difoto doang yang tetep angkat jempol.
Nah, sore itu, saya dan ayahnya lagi seru ngobrol. Biasanya kalau lihat saya ngantuk sore-sore, ayah Alif suka gitu. Mancing-mancing obrolan. Dia tahu banget kalau istrinya enggak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menyalurkan jatah ngomong dua puluh ribu kata sehari. Jadi, betapa pun nyeri di perut karena sedang kedatangan tamu bulanan, saya tetep antusias ngomong dengan semangat empat seperempat. Sambil tiduran, sambil sesekali meringis-ringis megangin perut.
Lalu tiba-tiba datang Alif yang baru selesai mandi. Sambil handukan, dia menenteng-nenteng setelan baju sore pilihannya sendiri. Dia bertanya ke saya soal pakaian yang dia bawa. Saya iyain aja, soalnya selera berpakaian Alif sekarang udah manusiawi.
Hanya saja, melihat ada saya, setelan pikirannya langsung switch dari anak ayah menjadi anak majikan.
"Ibu, tolong balikkan bajunya Alif, ya," pintanya sok buru-buru. Padahal ya gak mau ke mana-mana. Mentok ya cuman mau main di belakang rumah.
Memang, style saya dalam menyetrika dan mencuci adalah bagian dalam baju dibalik keluar. Biar enggak gampang pudar. Tapi rupanya Alif gemes perkara balik-membalik ini. Sementara gaya menyetrika saya sudah enggak bisa diganggu gugat.
"Tadi pagi, waktu ganti baju di kamarnya Ayah itu, yang waktu ada Ayah di kamar tapi Ibu ndak di situ, Alif bisa apa-apa sendiri. Mandi sendiri, nyiapin baju sendiri, balikkan baju sendiri, bahkan kapan itu bisa pakai sabuk sendiri." Saya nge-rap panjang. Ini baru pembukaan.
"Ayolah, Ibuuuuu! Bantuin Alif," rengeknya. Kumat.
"Balik sendiri! Ibu sakit perut ini." Saya berkilah. Kembali meringis-ringis. Lupa kalau sebelumnya baru aja lunas dua puluh ribu kata tadi.
"Iiiibuuuuuuu! Tinggal balikkan ini aja lhoo!"
Lhooo ... kesalahan fatal.
Emak-emak PMS dilawan.
Langsung nge-rap tahap kedua dengan kecepatan cheetah kepeleset.
"Alif tahu, ada lho, anak kecil yang selalu apa-apa dibantu ibunya. Sejak bayi, digendong terus sama ibunya kalau ke mana-mana. Makan diambilkan, disuapin. Minum dibantu. Sampai ke kamar mandi juga dibantu ibunya. Sampai besar, anak itu selalu dibantu ibunya. Enggak pernah jalan. Mengang sendok aja enggak pernah. Kalau kepingin sesuatu selalu minta ibunya. Ke kamar mandi ya tetep ibunya yang gendong dan bersihkan. Sampai akhirnya, suatu hari, ibunya sakit. Ibunya cuma bisa tiduran di kasur. Tidak ada yang merawat dan membantu. Kesakitan begitu, ibunya nyari obat sendiri. Berusaha sendiri. Kasihan. Anaknya cuma bisa teriak-teriak dari kursi. Cuma bisa nangis sama marah-marah. Sampai berhari-hari, anak itu pipis di tempat duduknya. Pesing. Kelaparan, kehausan. Ibunya tidak bisa lagi menolong. Malah bikin pusing karena nangis dan teriak-teriak terus. Wong dia ndak bisa apa-apa."
Ambil napas. Buang. Bersiap lanjut cerita dalam sekali tarikan suara.
Sementara Alif cuma bengong. Bengongnya antara antusias dengerin, kaget, sama takjub dengan kemampuan nge-rap ibunya. Sedikit-sedikit mulutnya mangap seperti mau ngomong tapi udah kesalip ibunya duluan. Celana baru masuk satu kaki tapi dia udah gak peduli lagi sama pakaian dan kondisinya yang baru bercelana dalam doang.
"Akhirnya, ibunya tadi menguat-nguatkan diri untuk bangun dan membawa anaknya ke tepi laut. Anak yang ndak bisa apa-apa, bau pesing, sudah besar tapi cuma bisa teriak-teriak berisik itu dilempar ke laut sama ibunya. Sambil ibunya bilang 'Anak tidak berguna! Seperti ikan!'. Terus begitu anak tadi nyemplung di laut, dia berubah jadi ikan beneran, seperti seperti yang dibilang ibunya."
Jeda lagi. Ngos-ngosan. Ambil napas. Buang emosi.
Alif menyerbu dengan selusin pertanyaan semacam....
"Kenapa ndak bisa jalan, Ibu?"
"Ibunya sakit apa?"
"Terus gimana?"
"Kok bisa jadi ikan, Ibu?"
"Ikannya bisa berenang, ndak?"
"Ikan apa, Ibu?"
Tapi saya gak peduli sama hujanan pertanyaan Alif yang makin lama makin jauh dari nalar. Masih dengan emosi yang meluap-luap dan nyeri di perut, saya menyampaikan pesan moral secara blak-blakan. Pokoknya misi dan tujuan saya harus tercapai.
"Makanya, kalau disuruh apa-apa sendiri itu harus mau. Ibu ngajarin Alif biar mandiri, tahu! Mau jadi ndak bisa apa-apa sampai tua seperti anak tadi?"
Sama seperti saya, rupanya Alif enggak peduli sama pertanyaan todongan ibunya. Dia telanjur kepo sama anak bau pesing yang bisa-bisanya berubah jadi ikan tadi.
"Kenapa Allah jadikan anak itu jadi ikan?" Alif masih aja fokusnya ke sana.
Sementara saya sudah kehabisan energi. Setengah mau nangis, mau ngakak, mau ngamuk, saya minta tolong ke Suami sambil megangin perut karena nahan nyeri bulanan yang bukannya tambah reda malah ikutan naik bareng emosi.
"Maaaasssss, toloonggg! Gimana ini anaknya kok begini, Mas??? Tolong jelasin, Masss. Capek aku, gak bisa gerak sama ngomong lagi ini, Mas! Toloonggg!" Saya memekik-mekik kayak mau lahiran.
Sementara itu, Alif, dengan celana yang baru kepakai separuh tadi, melihat ibunya dengan tatapan nanar.
Tanpa rasa bersalah, dia malah syok dan menanyakan pertanyaan yang bikin saya nangis haru.
"Lohhh! Lohh! Ibu kenapa? Kok, Ibu jadi tidak bisa bergerak seperti anak di cerita tadi?"
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Probolinggo, 12 Oktober 2023.
*Dongeng dalam catatan harian ini diambil dari Drama Korea Its Okay To Not Be Okay dengan sedikit perubahan.
Komentar
Posting Komentar