Cuci Piring



Percaya atau tidak, banyak sekali kebetulan di dunia nyata ini yang enggak logis. Kesannya malah cacat logika kalau dijadikan cerita. Tapi itulah kenyataan yang terjadi. Kebetulan demi kebetulan bisa terjadi dan membentuk pola yang makin sulit dinalar. 

Soal cucian perkakas dapur, misalnya. Entah kenapa, setiap kali mbah utinya Alif menengok ke rumah, selalu pas kondisi cucian piring dkk pada numpuk. Awal-awal dulu ya mengomel sebagaimana emak-emak pada umumnya. Lalu lama-lama terbiasa, tapi tetep lirikan mautnya ke tumpukan cucian tadi enggak bisa ditahan. 

Giliran Mbah Kakung yang nengok, hampir selalu pas banget saya habis nyuci. Lagi rapi. Pengaturan waktunya kayak sesuai banget sama harapan. Padahal saya mah orangnya santai. Bisa ya dikerjain, kalau capek atau bosan ya nanti aja dulu. Utamakan kesehatan dan kewarasan. 

Tapi namanya orang tua yang gemes sama kelakuan anaknya, bisa aja kondisi percucian piring ini dibahas di rumah sebelah. Bisa aja terjadi adu argumen berdasarkan fakta masing-masing yang semuanya benar, tidak ada yang salah. Sampai akhirnya, terjadilah razia operasi tangkap tangan. 

Jadi, pagi itu, Mbah Kakung yang udah siap di motor untuk berangkat kerja, tahu-tahu turun dan buka pintu dapur. Masih pagi. Masih jam-jam repotnya ibu-ibu nyiapin anak berangkat sekolah. Jam segitu memang biasanya dapur saya ya enggak enak dilihat.

"Bungaa!" teriaknya seperti biasa. Lalu hening sebentar. Saya cuma menoleh sambil bikin telur dadar. Berkat hidayah sebelum tidur, malam sebelumnya, cucian piring saya bereskan sampai tak bersisa. 

"Itu, disapu lantainya yang bersih," lanjutnya mengalihkan isu tentang tumpukan piring yang tidak terbukti, lalu pergi.

Saya cuma iya-iya aja meskipun lantai dapur memang dipakai untuk sandal masuk juga. Berkeramik, tapi keramik polos abu-abu yang tidak berkilau. 

Rasanya pengen ketawa, apa lagi kalau ingat mereka pernah melobi Alif alih-alih wawancara. 

"Alif, kenapa Alif ndak bantuin Ibu? Masa main terus bisanya?" todong Mbah Kakung saat Alif sedang seru main di ruang tamu. Saya sibuk di dapur sembari menyimak. 

"Alif itu sudah bantuin Ibu. Alif sholat, mandi sendiri, pakai baju sendiri, sisiran sendiri." Alif membela diri. 

"Bukan itu. Bantuin beresin mainan misalnya."

"Alif tadi sore beresin mainan Alif sendiri. Tapi sekarang dibuat main lagi sama Alif."

"Kalau cuci piring? Kenapa ndak bantuin Ibu cuci piring? Piringnya sendiri saja kalau habis makan."

Merasa kebanyakan ditodong, merepetlah anak enam tahun itu.... 

"Alif itu ya, sudah dari umur empat tahun dulu itu mau bantuin Ibu cuci piring. Alif minta diajarin cuci piring sama Ibu, tapi malah ndak boleh. Padahal Alif itu mau bantuin Ibu. Tapi kata Ibu nanti saja kalau tangannya Alif sudah besar. Tangannya Alif ini kan masih kecil, bisa pecah piringnya nanti! Bukan Alif ndak mau. Tahu, Mbah Kakung!?"

😅

Probolinggo, 24 Oktober 2023.


Komentar

Postingan Populer