Coba-Coba



Jaman saya kecil dulu, permainan anak-anak itu seru. Ada main jual-jualan, pasar-pasaran, monopoli, bendan, bekel, boneka, lompat karet, petak umpet, bermain peran ibu-ibuan, guru-guruan, cawapres-cawapresan....

Sekarang, sebelum kebahagiaan sampai dikuasai gadget, saya membiarkan Alif bermain di luar bersama teman-teman kecil lainnya. Meski beberapa kali saya lihat anak-anak kecil itu ada saja yang membawa ponsel. 

Siang itu, sewaktu saya masih berbelanja di toko tetangga, terdengar suara tangisan yang melengking. Suara Alif. Buru-buru saya menyelesaikan transaksi, lalu menghampiri. 

Ternyata kakinya kejepit di antara dinding semen dan tiang besi kecil. Saya mau ngakak tapi malu, soalnya tetangga pada merubung.

Aturan itu, ya, bisa masuk, pasti bisa keluar. Ini mirip kelakuan bocil-bocil di tiktok yang kepalanya kejepit pager. Celahnya muat di leher, tapi enggak muat dilewatin kepala. Sementara dalam pikiran Alif, celahnya muat di pergelangan kaki, tapi enggak muat di betis, paha, apa lagi badannya. 

Akhirnya, setelah putar posisi badan beberapa kali, akhirnya kakinya bisa keluar tanpa harus ngiris tiang atau ngerobohin dinding tetangga. 

Kasus berikutnya, agak berat. Alif pulang dengan kaki berdarah-darah tertusuk paku. Yang ini bikin panik sampai-sampai saya harus menelpon ayahnya yang sedang kerja di luar kota biar pulang. 

Setelah beberapa hari berlalu dan si anak bisa ditanyain lebih detail tanpa drama, akhirnya terkuaklah kenapa hal itu bisa terjadi. 

"Alif main sendiri, Mbak Bunga, ke pojokan sana. Sudah tak ajak ke sini aja main sama-sama, ndak mau," jelas saksi pertama, anak tetangga. 

"Wes tak teriaki, jangan diinjak, tetep aja!" Saksi kedua, anak bungsu ibu saya. 

"Wong kayu-kayu yang banyak pakunya itu lho baru kemarin tak pinggirkan biar ndak keinjak anak-anak. Kok masiiih aja kena!" Saksi ketiga, tetangga, ibu saya. 

"Alif pikir ndak sakit, jadi ya Alif injak pakunya. Kan, Alif kepingin tahu gimana ya kalau berjalan di atas paku." Pelaku utama sekaligus korban. Aktor debus karbitan. 

Yang terakhir ini bikin saya pingin sholat taubat. Istighfar doang mah mana lega. Mau marah, kok enggak enak. Teringat anak kecil lainnya yang pernah mencoba memasukkan mutiara imitasi ke dalam hidung sampai harus dibawa ke THT. Saya sih sudah lupa sama sekali kejadiannya. Bahkan tidak merasa pernah begitu. Kalau saja saksi ketiga tadi tidak terus menerus mengulang cerita itu setiap kali ada anak orang, dan sekarang cucunya sendiri, berkelakuan yang membawa hikmah seperti ini. 

😌

Probolinggo, 26 Oktober 2023.

Komentar

Postingan Populer