CICIP-CICIP


Kasus ini sudah lama. Bahkan sejak baru diciptakan, dia sudah begitu. Dulu, Alif senang mengenali benda-benda dengan menyentuhnya, melihat dengan seksama, mengguncang-guncangkan agar terdengar bunyinya, melempar, dan mencicipi. Nah, yang terakhir ini yang sering bikin ibunya migrain.

Jajan dicicip, mainan dicicip, segala jenis minuman dicicip. Saya memaklumi, namanya juga anak kecil di masa usia emas. Anak sedang belajar mengenali apa-apa yang di sekitarnya, memenuhi rasa ingin tahunya. Padahal, tahu masih murah, dan saya sering beli. Sayangnya yang dicicip makin lama makin random. Ya baju, sprei, gorden, meja, kursi, semua kena jejak perkenalan dia.

Tapi itu dulu.

Alhamdulillah, sekarang, di usianya yang lima tahun, yang dicicipi makin bervariasi.

Saya sudah memahamkan kepadanya di setiap TKP, bahwa benda-benda itu berpotensi besar ada kumannya, tidak bersih, tidak suci, dan tidak perlu dicicipi.

Kalau dulu dia cicip pintu, sekarang cicip pegangannya tangga, teralis jendela, tatakan cangkir, botol minyak kayu putih, lantai, bagian bawahnya gelas.

Biar sampai ibunya barongsai-an, dia tetep santuy begitu.

Tinggal tanah aja dia yang belum cicip.

Jangan, ya, Nak. Yang itu, biar ibu kasih tahu aja rasanya gimana.

Soalnya ibu sudah pernah mencicipi itu, dulu.

😌

Lamongan, 3 Oktober 2022.


Komentar

Postingan Populer