Cermin Laverna
Sore itu, Ayah saya meminjam cermin untuk dipakai potong rambut. Maklum, di rumah sebelah memang adanya cermin meja rias. Dulu di sana malah ada cermin Snow White yang gede banget itu. Sementara cermin saya hanya seukuran buku tulis. Bisa dipindah-pindah, bisa digantung, bahkan dibawa bepergian jika perlu. Ternyata memang ukuran tidak selalu menentukan banyaknya manfaat. Kecuali duit.
Malamnya, saat mau bercermin sebab perlu berdandan sebelum ke ATM, saya panik karena cerminnya masih di rumah sebelah. Belum dikembalikan. Akhirnya, setelah bersusah payah bergerilya mencari, ketemulah cermin Laverna bekas dari wadah bedak halal.
Cermin itu kecil ukurannya. Bisa digenggam dan jauh lebih portable dari pada cermin yang dipinjam tadi. Tapi kalau harus berdandan menggunakan cermin itu, rasanya saya seperti main puzzle bergambar muka sendiri. Hanya terlihat part per part. Enggak bisa full version. Ini kalau enggak sakti-sakti amat urusan dandan, alamat wajah jadi enggak simetris, warna kulit tidak merata, dan wajah terlihat sepuluh tahun lebih gila.
Dengan persiapan ala kadarnya, saya pun siap berangkat. Karena ayah Alif sedang di luar kota, makan saya perlu pamit ke rumah sebelah sekalian ngambil cermin.
"Yaaaah, cerminnya belum dikembalikan! Aku sampai dandan pakai ilmu ladunni ini. Untung nggak penceng!" Saya mulai berisik. Pamit merangkap demo ya begini. Hanya bisa didiamkan saat sudah dapat nasi kotak atau salam tempel.
Bukannya dijawab, saya malah diajak ghibah. "Ya Nduk, ya. Teman Ayah itu, habis ngejek menantu orang, dia ternyata dapat menantu persis seperti yang dia ejekkan waktu itu."
Hmm. Mancing-mancing. Memang belum pernah ada yang tahu kalau bakat ghibah saya itu bertuah banget. Bahkan ayah sendiri pun tidak tahu. Bukan enggak mungkin, hasil petikan hikmah berghibah malam itu saya ceritakan ke sumbernya langsung tanpa sengaja suatu hari nanti.
Tapi karena saya baik, sahutan saya soal teman ayah tadi saya sambung dengan petuah bijak paling filosofis yang belum pernah saya dengar dari siapa pun. Saya sampai kaget sama omongan sendiri. Bisa jadi ini berkat cermin Laverna yang bertuah, saya bener-bener dapat ilmu ladunni.
"Memang, Yah, kayak gitu itu sudah biasa terjadi. Seperti pepatah, Witing Kualat Jalaran Soko Maido (Karma itu berasal dari hinaan)."
😌
Probolinggo, 6 Oktober 2023.
Komentar
Posting Komentar