Alur
Alur
Siang itu, seorang saudara datang ke rumah, mengantar Ibu mertua. Saya memanggilnya Paklik. Basa-basi, saya bertanya bagaimana kabar anak sulungnya. Tampaknya itu pertanyaan yang tepat karena saya melihat beliau antusias menjawab. Bahwa anaknya sedang berkuliah di kota besar, bahwa anaknya ternyata mendapat amanah yang cukup bergengsi di kampusnya. Yang terakhir itu dijelaskannya tanpa perlu saya bertanya. Saat bercerita, ada nada kebanggaan dan kekaguman bergerilya pada wajah dan suaranya.
Saya menimpali kebahagiaannya dengan bertanya lebih lanjut. Sekadar menyenangkan hatinya. Saya senang melihat orang-orang tua yang sayang, bersedia bangga dan mendukung anak-anaknya. Meskipun saya tahu yang seperti itu tidak selalu baik. Tapi orang-orang tua itu, memanglah begitu tabiatnya. Karena saking bahagianya. Mereka yang tidak punya pendidikan tinggi, tapi punya kasih sayang yang luas untuk anak-anaknya.
Hal itu mengingatkan percakapan saya dengan orang tua akhir semester lalu. Mereka bererita tentang adik bungsu saya, yang masih kelas empat SD, mendapat juara satu. Saya katakan bahwa saya kagum dan terkejut mendengarnya. Itu pertama kalinya ada adik saya yang mendapat juara satu.
Orang tua saya sangat bahagia, juga bangga, seperti Paklik tadi. Saya pun menimpalinya sebagaimana saat berbicara dengan Paklik. Mereka bercerita juga bahwa Adik meminta hadiah. Orang tua pun memberikannya dengan segera. Bahkan tanpa diminta, hal itu sudah direncanakan.
Kata Ayah, Adik bahagia sekali. Saya iyakan. Sejak awal, sebagian besar jawaban saya memanglah peng-iya-an dalam berbagai diksi. Sampai akhirnya, beliau menyadari sesuatu.
"Tinggal sameyan, Nduk, yang dulu tidak pernah dapat hadiah," kata Ayah.
Saya diam. Tidak mungkin saya tidak ingat tentang apa yang selalu menjadi langganan saya sejak SD sampai Aliyah. Juara satu itu tidak didapatkan tanpa kerja keras.
"Tidak pernah dibelikan apa-apa," tambahnya lagi.
Saya masih diam. Selama ini saya pikir mereka lupa. Atau mungkin abai karena sudah langganan dan tidak pernah terlihat takjub. Saking terbiasanya, jadi dianggap biasa. Meski saat sekali saya pernah dapat juara tiga, tidak satu pun bersedia memandang apa lagi membantu menegakkan bahu yang layu.
Pada akhirnya saya menyahut juga.
"Ndak papa, Yah. Pernah, kok. Yang dulu dibelikan hp waktu lulus SMP itu."
Saya ingat jelas saat itu. Ponsel yang saya idam-idamkan.Ponsel yang baru terbeli setelah begitu banyak teman yang sudah punya. Ponsel nokia second yang tidak pernah saya matikan ringtone-nya setiap ada SMS masuk (seringnya SMS telkomsel). Yang selalu saya gunakan untuk iseng menelpon teman-teman, mengerjai, sekadar agar ponsel itu terlihat agak meriah dan ada gunanya.
Saya juga ingat jelas, bahwa agar benda itu terbeli, saya harus menarik tabungan rekreasi (lagi pula, tidak ada cukup uang saku untuk liburan). Rela tidak ikut ke Bali sebagaimana teman-teman yang lain. Sangat rela. Seperti juga saya rela tidak ikut semua jenis bimbel dan les sejak masih kecil, kecuali les komputer saat SD, atau les yang gratis.
Setidaknya, saya senang ketika orang tua menyadari itu dan masih ingat. Saya yang tidak jadi apa-apa ini, sebenarnya pernah berarti.
Setidaknya, saya akhirnya merasakan lagi bagaimana rasanya dibanggakan seperti dulu, saat dua dari beberapa buku antologi saya tiba di kampung halaman sana. Buku antologi cerita anak yang ternyata dipinjam-pinjam oleh beberapa tetangga. Yang diceritakan juga ke mana-mana.
Katanya, saya sudah jadi penulis.
Meskipun demi anggapan menjadi penulis itu, saya menuai juga tantutanya. Seperti saat dulu masih kecil, saat mereka bertanya kenapa sang juara satu tidak pandai sekadar mengelap jendela, sekarang saya ditanya kenapa tutur kata sang penulis tak selembut ketika bercerita dalam tulisan, kenapa tak punya banyak uang, kenapa tidak cantik, kenapa tidak keluar rumah, kenapa....
Saya ... lelah.
Lamongan, 20 Maret 2022.
Komentar
Posting Komentar