Titipan Ibu
Pagi tadi, ketika sudah sarapan, sudah mandi dan sisiran, Alif minta izin pergi main di luar. Gayanya flamboyan klimis dengan setelan kaus berlogo Singapore. Kausnya dimasukin pula ke dalam celana. Saya semringah memandang anak enam tahun yang rajin menabung ini.
"Wah, ganteng sekali. Sudah mandi sendiri, pakai baju sendiri, sisiran sendiri. Coba sini, gimana baunya. Harum ndak, ya." Demikian basa-basi-bulus emak-emak yang sekadar pengen cium anaknya sendiri.
Setelah cium pipi dan benerin sisirannya, semua pujian tadi muncul tagihannya....
"Alif, bisa ndak Alif belikan detergen dulu buat Ibu nyuci. Beli di belakang, di Tante Lia," pinta saya sembari mengulurkan uang dua ribu.
"Bisa. Terus kalau sudah, Alif boleh main di belakang, kan?"
"Boleh. Nah, sekarang, belikan Rinso, ya. Dua ribu itu semuanya. Oke?"
"Oke!" serunya riang tanpa beban.
"Beli apa?" Saya memastikan. Maklum, saya jarang sekali nyuruh-nyuruh Alif beli sendiri. Jadi dia belum cukup berpengalaman.
"Rinso, iya, kan, Ibu?"
"Pinteeer!" Gak sia-sia rasanya tiap hari jawabin pertanyaan. Simbiosis mutualisme. Saya mendidik dia biar pinter, dia pun secara tidak langsung mendidik saya jadi Mbak Google.
Setelah memastikan pesanan ibunya, Alif pun berangkat. Belum apa-apa, masih di pintu, dia sudah bertanya lagi.
"Ibuuu! Apa tadi yang mau dibeli? Riko?"
Mendengar pertanyaannya,keeleganan saya mendadak berada di ambang batas. "Ngapain beli Riko? Riko itu kan teman Alif! Temannya Alif sekarang sudah dijual apa gimana? Tante Lia jualan anak-anak tetangga? Rinsooooo, bukan Rikoooo!"
Hadeh, untung sudah sarapan.
Alif ngikik sembari memasang sandal. Dia segera pergi sambil melompat-lompat. Terdengar nyanyian kecilnya merapal pesanan.
"Rinso-Rinso-Rinso-Rinso-Rinso-Rinso...."
Mau enggak mau, saya ngakak sendirian. Bukan apa-apa, kuatir dia kesandung aja. Kan lumayan kalau nanti liriknya berubah.
Rinso-Rinso-Rinso ... jedug! ... Royco-Royco-Royco ... jedug lagi... Riko-Riko-Riko
Bisa-bisa temennya dikeresekin terus dibawa pulang.
Belum ada dua menit, Alif sudah balik pulang sambil lari.
"Ibuuuuuuuu!" teriaknya panik. "Tadi apa namanya, Ibu?"
Kann ... kaaaannn ....
"Rinsooooooo, Nak, Rinsooooooo!" ulang saya sambil nahan kewarasan.
"Oh iya. Rinso. Alif berangkat lagi, Ibu!" pamitnya sambil lari.
Semenit.
Dua menit.
Lima menit.
Lalu terdengarlah langkah normalnya mendekat. Riang, tapi tidak lagi melompat. Alif masuk, lalu dengan bangga menunjukkan hasil kerja kerasnya.
Untuk ukuran Alif yang gampang kecantol apa-apa di sepanjang jalan, acara minta tolong beli ini saya jadikan program terapi buat dia belajar fokus. Alif sedang di masa-masa mudah tertarik pada apa saja sampai lupa tujuannya mau ngapain. Jadi, apa pun yang dia bawa pulang, sebenarnya saya sudah siap dengan segala risiko.
"Ibuuu, ini dia Rinso-nya!" Dia mengulurkan sebungkus detergen dan selembar uang seribuan.
"Terima kasih banyak, Alif. Pinter sekali!" puji saya. Terus nodong, "Tapi, kok, cuma beli satu? Kan Ibu suruh beli dua ribu tadi, kan?"
"Oh, iya, ya? Ya sudah. Tidak apa-apa ya, Ibu. Alif minta maaf. Seadanya itu saja diterima ndak pa-pa, ya, Ibu. Bersyukur, ya," nasihatnya, bijak, pakai template ucapan ayahnya kala cemilan titipan saya enggak ada.
Ya udah saya diam tak berkutik.
"Ibu, Alif mau beli mainan gelembung sabun, ya! Ada kok di Tante Lia."
Ealah, pantesan pulangnya bahagia. Tapi gara-gara itu saya jadi punya ide.
"Ya sudah, tapi Ibu belikan Rinso lagi, ya. Alif tak kasih uang, nih, dua ribu. Beli yang Alif mau, terus Ibu belikan Rinso juga. Antarkan pulang dulu tapi."
Alif menerima, lalu memandang sendu uangnya.
"Ibuuuuuuuu, capek Alif kalau harus disuruh beli Rinso lagi. Balik lagi, balik lagi. Huuufft!"
"Yawes yaweeeeeessss, Ibu ndak titip, wessss."
Seketika wajah sendu tadi berubah cerah. Dengan antusias dia berdiri dan pamit pergi.
Sebelum jauh, saya sempatkan berteriak.
"Aliiiffff, pokoknya kalau detergennya cuma satu, seragamnya Alif tak cuci separuh aja lho ya! Lengannya aja, lainnya enggak!"
Alif ngikik sampai jauh.
😌
Probolinggo, 24 September 2023.
Komentar
Posting Komentar