Tangan Panas


Dulu, waktu masih kecil, kalau Mbah saya mengatasnamakan ayam peliharaan dengan nama saya, ayam-ayam itu akan lebih kuat bertahan hidup dan beranak pinak. Padahal saya enggak ngapa-ngapain. Palingan ikut ngasih makan. Itu pun kadang-kadang saja. Enggak ada ceritanya nyariin ayam yang enggak pulang-pulang, nutup kandang, mandiin ayam, apa lagi bersihin kotorannya. 

Jadi, berkat modal nama kepemilikan itu, menjadikan sebagian besar ayam-ayam Mbah dulu milik saya. Lain cerita kalau diatasnamakan sepupu atau adik-adik saya. Ayam-ayam yang segar bugar lari-lari bahagia itu bisa mendadak mati. Entah itu kecebur kolam, dimakan tikus, atau karena sakit-sakitan. Ada aja alasan yang ujung-ujungnya mati. 

Mungkin karena saya juga merupakan cucu pertama, selain soal ayam, piring-piring di rumah juga sebagian dinamai saya. Kalau bukan anak sembilan puluhan, mungkin enggak tahu tradisi nama di piring ini. 

Tapi keberuntungan saya dalam hal per-ayaman tidak berlaku pada tanaman. Kata orang, tangan saya panas. 

Ayah Alif, menanam apa aja bisa hidup. Sirih gading, binahong, anggrek, dan berbagai tanaman lainnya bisa tumbuh subur kalau yang nanam dan merawat dia. Tanaman dalam ruang, bahkan ruangan tertutup, bisa berkembang menjalar-jalar. Sempat rasanya ruang tamu kami dulu jadi semacam taman pindah saking segernya. 

Tapi kesegaran itu tidak bertahan lama sejak saya mengambil alih. Padahal selalu disiram setiap hari. Tanaman yang sama, dengan media tanam yang sama, air yang sama,  seminggu kemudian mati semua. 

Di tempat tinggal sekarang, saya jarang sekali menyentuh-nyentuh tanaman milik mbah utinya Alif. Soalnya banyak dan ribet. Tiga hari ditinggal ke luar kota sama Mbah Uti, tanaman-tanaman itu dititipkan ke saya. Kucingnya juga. Alhamdulillah tanamannya kering semua. 

Yang terakhir seminggu lalu, ayah Alif membawa pulang tiga varian sirih gading untuk ditanam Mbah Uti. Saya bilang saya suka sekali salah satu yang namanya ada brazil-brazilnya. Tapi meski begitu, tetap semuanya saya berikan ke Mbah Uti.

Lima hari kemudian, yang brazil itu mati, dua lainnya hidup. 

Beruntung Alif punya ibu seperti saya. Beruntung juga dia bukan tanaman. Dan sekarang saya ngerti kenapa dia 'akrab' sekali sama ayam. 

😑

Probolinggo, 20 September 2023.

Komentar

Postingan Populer