Tamu Bulanan
Tamu Bulanan
Saya pernah melihat perempuan-perempuan yang gejala bulanannya menyakitkan banget. Ada yang sampai pingsan, ada yang enggak kuat bangun, ada yang sampai sekali pakai pembalut harus langsung dua, itu pun sehari bisa belasan kali ganti. Energi dan emosi bener-bener dikuras habis.
Tapi sesusah atau semudah apa pun, akan terasa jauh lebih nyaman kalau berada di tengah orang-orang yang pengertian. Yang enggak toxic. Yang bisa ngertiin emosi perempuan. Minimal enggak nambahin beban pikiran dan tenaga. Syukur-syukur kalau bisa bantu nyarikan obat atau jamu, atau sekadar mau dengerin keluh kesah.
Sementara itu, yang terjadi ketika saya kedatangan tamu bulanan adalah....
"Dari pagi nyeri terus ini perutku. Kayak ada gilingan muter. Terus tahu-tahu diam, lega. Terus gitu lagi," keluh saya ke ayah Alif.
Padahal kalau dia lagi enggak di rumah, enggak ada tuh keluhan. Paling cuma dibawa tidur aja.
Yang diceritain cuma diam menyimak. Saya baru sadar kalau tadi itu kalimat berita. Sambung lagi deh ngeluhnya. "Mau berdiri, pusing. Jalan kecepetan, pusing. Tidur juga harus miring biar enggak banjir."
Suami masih juga di mode menyimak. Posisi kami sedang duduk berdua di tikar sambil menikmati kolak kacang hijau hangat. Maksudnya, saya makan, Suami menyimak sambil bersandar di dinding. Kacang hijau punya dia sudah habis sejak tadi. Sementara Alif sedang sibuk main di luar.
"Aku enggak masak, ya, hari ini. Beli telur aja diceplok apa dadar gitu." Ganti jenis kalimat.
"Iya. Santai saja." Akhirnya nyahut.
"Aku mau banyak tidur. Pusing kepalaku. Aku itu gampang, kok, Mas, kalau sakit. Selalu tak bawa tidur. Kalau sakit gigi juga gitu, tak bawa tidur."
"Memang, perempuan itu daya tahan sakitnya lebih tinggi dari pada laki-laki. Kalau laki-laki disuruh merasakan rasa sakitnya melahirkan, mungkin malah pingsan. Otaknya tidak sanggup menerima sakitnya." Ini Suami yang ngomong. Pokoknya kalau agak berbobot kalimatnya, jelas bukan saya.
"Iya, Mas. Mens itu juga gitu, sakitnya seperti simulasi lahiran. Cuman memang enggak seberat lahiran. Dan sudah terbiasa juga kan dari remaja sudah begitu," tambah saya biar kelihatan cerdas juga.
Saya lanjut makan kacang hijau. Suami masih di pose seperti tadi.
"Haahhh, lama-lama capek juga makan kacang hijau. Tapi enak, soalnya masih hangat," keluh saya lagi.
Asal tahu saja. Omongan saya ini penuh intrik. Ini cara saya bersyukur yang disisipkan dalam keluhan. Misinya biar Suami tahu saya merasa nyaman dan senang, tapi tetap dalam konteks bahwa kondisinya masih belum normal.
Bisa jadi, mengingat tingkat analisanya yang dalam, dia ngerti. Tapi bisa jadi juga tidak. Wong responnya atas kalimat terakhir saya ini malah bikin istighfar.
Dengan memandang saya penuh arti, dia berucap, "Tapi itu sudah mangkuk ketiga, sih."
😑
Probolinggo, 24 September 2023.
Komentar
Posting Komentar