Sepatu Alif



Efek samping beli sepatu anak di Shopee salah satunya adalah banyak yang ngembarin. Padahal untuk harga, sepatu Alif tergolong tidak murah apa lagi murahan. Enggak yang mahal juga. Tapi memang itu produk best seller dan recommended  untuk kriteria sepatu hitam polos ori buatan lokal.

Di hari pertama Alif sekolah di sini, pas dia pakai sepatu barunya, saya mendapati ada sekitar selusin anak lain yang memakai sepatu hitam dengan merk dan model yang sama. Sampai sini saya masih selow meski syok sedikit. Agak susah juga menerima kenyataan bahwa selera saya ternyata pasaran. Dompetnya juga pasti.

Senin kemarin, pas lagi nyemir sepatu hitam itu, saya menyadari ada yang ganjil. Sepatu yang kiri lebih kusam dari yang kanan, padahal enggak ada satu pun yang dianaktirikan selama ini. Setelah memeriksa lebih detail, ternyata kanan kiri beda ukuran. Yang kanan 28, yang kiri 29. Di sini saya mulai oleng. Anaknya sih fine-fine aja.

Selalu begitu. Rasanya sering banget berada di posisi menyadari ada yang yang salah, senewen sendiri, padahal yang bersangkutan nyangkut di pohon cabe. Hadeeh.

Jadilah saya ke sekolah, mengadu ke Bu Guru, dan sidak sendiri juga. Dan ternyata hasilnya nihil. Enggak ada yang punya sepatu invalid seperti Alif.

Begitu ajaibnya hidup. Berangkat dengan sepatu ukuran 28 di kanan dan 29 di kiri, Alif ternyata berhasil pulang dengan sepatu ukuran 30 kanan kiri. Cinderella aja perkara alas kaki enggak gini-gini amat.

Sepatu Alif sebenarnya ukuran 28. Hanya dalam dua bulan, keduanya bertumbuh menuju 29 dan terakhir 30. Padahal enggak pernah dikasih makan. Enggak ditanam dan dirawat seperti anak sendiri juga. Anak udah satu ini aja rasa lima.

Sebulan nambah satu senti. Berarti setahun nambah 12 senti kalau enggak ada percepatan. Kalau ada percepatan, bukan enggak mungkin nanti akhir tahun ajaran bisa bawa pulang dua pasang sepatu. Betapa bijaknya saya menemukan sisi positif dari berbagai keadaan.

😌


Probolinggo, 25 Juli 2023.

Komentar

Postingan Populer