Kultum Maghrib



Ba'da maghrib, saatnya Alif belajar ngaji. Lumayan, satu hari satu halaman kalau lancar. Dan anehnya, lancar tidaknya bacaan dia tergantung pada mood. Jadi, segampang apa pun, kalau mood-nya lagi enggak mau, ya enggak bisa. Dan membangun mood ini yang susah. 

Tapi untungnya, acara belajar ngaji berdua tadi ini berlangsung dengan damai sentosa meski tanpa wasit yang biasanya bersiaga. Keberhasilan saya membangun mood kali ini berasa kayak berhasil membangun seribu candi. Seneng dan bangga banget. Akhirnya saya bisa menaklukkan anak ini tanpa harus lapor ke ayahnya. 

Saking semangatnya, sampai lupa baca doa sebelum belajar. Sebagai emak yang enggak mau rugi, saya ajaklah dia merapel doa sebelum dan sesudah belajar sekalian. Alif pun meraung tak terima. 

Akhirnya, saya coba jelaskan arti setiap doa yang kami baca bersama setiap hari itu. Sambil kasih wejangan-wejangan, mumpung saya lagi mode bijak. 

"Jadi, Alif kepingin apaaa saja, minta sama Allah. Karena Allah suka dimintain."

"Hah?  Kenapa suka dimintain?" tanyanya sambil ketawa.

"Karena Allah kan Maha Kaya," jawab saya, masih bijak. 

"Berarti, Allah itu kaya raya banyak duitnya?" tanya anak saya yang mendadak berubah jadi Ismail bin Mail. Matanya terang berkilauan kalau urusan duit. 

"Semua yang ada di dunia ini kan punya Allah. Alif, Ibu, Ayah, lanngit, bumi, semua Allah yang bikin."

"Allah bisa belikan tenda untuk Alif?" Dia menanyakan obsesinya akhir-akhir ini. Sedikit lagi, uang tabungan Alif sudah cukup untuk beli tenda. Tinggal saya yang ketar-ketir kuatir diajak nginep di alun-alun. 

"Bisa dong!"

"Allah beli di Shopee? Begitu?" 

Sampai sini saya mulai di ambang keolengan. 

"Ya mboten! Allah kasih rezeki lewat Ayah, Ibu, terus baru deh dikasihkan ke Alif supaya bisa  mengumpulkan uang buat beli tenda. Iya, kan?" jelas saya, berusaha keras untuk tidak oleng sampai titik penghabisan tausyiah maghrib ini. 

"Wah, iya! Alhamdulillah. Berarti Allah bisa mengabulkan apa saja yang Alif mau, ya, Ibu?"

Saya mengangguk senang. Enggak jadi oleng. Pinter banget anak saya. Benar kata orang, kecerdasan memang menurun dari ibunya, terlepas dari propaganda ayahnya sejak dahulu kala. 

Pas di saat saya sedang bangga-bangganya, Alif justru menunduk. Dia memperhatikan kedua tangan kecilnya dengan raut sedih. 

"Ibu," panggilnya lirih. "Bisa ndak, Allah jadikan kulitnya Alif biar selalu terlihat lebih muda?"

😑

Probolinggo, 12 September 2023.

Komentar

Postingan Populer