Jodoh
Jodoh
Tentang tangan panas, saya punya pengalaman sewaktu masih di Lamongan dulu. Seorang mbak-mbak penjual sayuran tempat saya berlangganan sayur di pasar, bercerita kepada saya soal suaminya.
"Belum jam enam, biasanya suamiku sudah mengusung barang dagangan ke sini. Jam enaman baru aku yang berangkat," jelas Mbak penjual saat saya tanya jam berapa dia biasa buka. Soalnya, selalu, kalau enggak kepagian, saya kesiangan. Pas tepat waktu orangnya libur. Bikin emosi aja. Kaya dikit tak beli itu pasar. Pantesan gak kaya-kaya.
Tapi saya cuma manggut-manggut, berusaha gak salah ekspresi apa lagi salah ngomong. Lumayan, kan, kalau saya memicu tawuran di pasar. Geser ke kanan ada balai desa. Geser lagi malah kantor polisi. Serem, euy.
"Wah, perhatian sekali, ya, Mbak. Mana dibantuin ngupasin semua kelapa. Mbaknya enggak harus repot. Enggak banyak omong lagi suaminya." Saya sok akrab, sok tahu, padahal melihat ya sekilas-sekilas doang.
Tapi beneran pendiam kayaknya suaminya itu. Kata emak-emak lain juga gitu. Pas banget kalau seandainya kumpul bareng ayah Alif. Damai, aman, tentram, sepi enggak ada suaranya.
"Ya memang kerjanya ya ini, sama aku jualan. Dia yang kulakan kalau malam. Kadang aku ya kadang ikut, kadang enggak." Si mbak menambahi.
Saya manggut-manggut lagi. Gitu doang bisanya. Untung enggak keterusan manggut-manggut kayak ayam sampai pulang.
"Oh, kulakannya malam, ya, Mbak. Terus, apa ndak ada yang nanam sendiri? Biasanya kan orang sini punya ladang atau sawah gitu."
Pertanyaan saya kali ini agaknya memantik emosi di wajah si mbak. Dengan bersemangat, Mbak penjual bercerita.
"Sebenarnya sawah ya ada. Malah suamiku itu sarjana pertanian...." Belum kelar mbaknya ngomong, saya keburu menyahut.
"Wuiiih! Pas banget itu, Mbak. Langsung di tangan ahlinya! Terus gimana? Panen raya dong?"
"Apanya! Kuliah meski sampai sarjana, Mbak, kalau ndak jodoh ya ndak bisa. Tangannya panas. Nanam apa saja mati."
Detik itu saya merasa enggak enak banget. Bukan sama mbaknya, tapi sama diri sendiri. Kenapa momen selucu ini saya malah enggak boleh ngakak? Mbaknya sih ketawa lebar. Tapi saya takut salah sikap. Ini kalau di rumah bisa berguling-guling tiga hari tiga malammalam kayak paketan Indosat.
Bayangin. Habis duit banyak, kerja keras, mikir keras, setengah mati bikin skripsi atau apalah itu namanya, terus diwisuda dari jurusan pertanian, ujung-ujungnya tetep aja musuhan sama taneman.
Udahlah, ya, pokoknya, kalau seenggak-jodoh ini, rumusnya cuma dua: tetap menyerah dan jangan semangat. Banyak kok orang-orang di luaran sana yang sukses setelah banting setir di tengah jalan. Asal punya kenalan orang dalam.
🥴
Probolinggo, 22 September 2023.
Komentar
Posting Komentar