Berat


Dua hari lalu, sehari sebelum tanggal merah di kalender memperingati Maulid Nabi, ayah saya mengajukan ide jalan-jalan ke pelabuhan. Mumpung semua libur.

Karena ayah Alif sedang di luar kota, pembagian perboncengan pun saya pikirkan matang-matang. Biar saya bisa ikutan juga.

"Gini aja, Aku sama Zafar dibonceng Afif," jelas saya, menyebut om kedua dan om pertama Alif. "Nah, Alif biar sama Mbah Kakung, sama Mbah Uti."

"Yo ndak kuat semua sepedanya!" Mbah Kakung Alif menyahut, senewen.

"Ya kuatlah! Zafar lho kurus, aku kurus!" Saya berargumen. Ngotot banget pengen ikut meski boncengannya gaya cabe-cabean begitu.

"Sepeda motornya Afif itu motor lama! Ndak bisa!" Masih Mbah Kakung yang menyahut. "Motor ayah juga berat sekarang bawaannya."

"Berat apanya? Wong isinya cuma Ayah, Ibu, sama Alif!" Kali ini saya ngegas.

"Berat sama ilmunya, Nduk! Hahaha." Mbah Kakung ngakak bahagia merasa bisa ngadalin saya.

Saya ngakak juga. Perasaan di sini cetek semua. Makanya motornya jalan terus.

Puas ngetawain ketidaksadardirian ortu sendiri, saya pun menutup diskusi gak guna itu. Lha wong ujung-ujungnya gak jadi. "Hadeeehh, Yah, kalau beratnya ilmu itu ngaruh, Gus Baha otomatis sepeda motornya nganggur. Beliau ke mana-mana jalan kaki aja udah."

Seketika Ayah, Ibu, dan Zafar, adik saya, semua ngakak kenceng. Sementara saya siaga sama telinga. Soalnya kalau sudah begini biasanya kena jewer.

🙃

Probolinggo, 30 September 2023.

Komentar

Postingan Populer