BASA-BASI


BASA-BASI

Saya sering kagum sama orang-orang yang renyah sekali kalau bicara, bahkan dengan orang yang baru dikenal. Beberapa orang saya kira memang punya kemampuan khusus untuk mudah akrab dengan orang lain. Ditaruh di mana aja bisa seru. Lain hal dengan saya yang ditaruh di mana aja ... saru. 

Saya di tempat baru, bisa jadi di mata orang lain adalah sosok yang menakutkan, intimidatif, enggak seru, enggak asik. Dan memang demikian penampakannya. Padahal, sering kali saya juga ingin diterima dan diakrabi, sering kali juga memang saya yang enggak mau sebab vibes-nya kejauhan. Karena itulah, jika saya ingin membaur di banyak orang atau di tempat baru, saya akan banyak mengamati dan jika waktunya tepat, akan coba bertanya atau menyapa. 

Masalahnya, entah bagaimana bisa, pertanyaan-pertanyaan saya bawaannya memancing kerusuhan. 

Waktu sekolah dulu, misalnya. Ketika bergabung di sebuah club ektrakurikuler, saya disuruh berkenalan dengan kakak kelas oleh guru. Dengan lugunya saya bertanya, "Mbak, Mbak tahu enggak, Mbak Alfi yang katanya Bu Nita tadi itu dari kelas mana?"

Kakak kelas yang manis itu pun menjawab, "Saya dari kelas XII IPA 1."

Baiklah. Baru kenalan aja harga diri sudah jatuh. 

Berikutnya, sewaktu awal nyantri. Merasa gosip adalah bahan yang pas untuk mencari teman, saya pun menyapa senior yang kebetulan berjalan di dekat saya. 

"Mbak, Mbak tahu enggak kenapa kok ada santri yang tinggal di kamar ustazah? Emangnya, senakal apa, sih?"

"Ya sebenarnya aku di sana bukan karena nakal, sih...."

Ealah dalah. Ghibah aja enggak bakat. Bisa-bisanya bertanya ke orang yang 'tepat'. Ini bukan nanya lagi namanya, tapi verifikasi. 

Jadi, bawaan saya sejak muda dulu sudah begitu. Mungkin bahkan dari sejak lahir. Awet sampai sekarang masih begitu. 

Yang terbaru, sewaktu pindah kembali ke kampung halaman, saya menyapa tetangga yang punya balita. Dengan gemas saya menyapa anak dua tahun berambut pendek yang baru mandi itu.... 

"Masyaallah, gantengnya yang sudah mandi! Pinter sekaliiii."

Seketika emak dan bapaknya menoleh. "Ganteng jareeee," sahut emaknya. 

Elah kapokku kapannn!? Ternyata anak bergaya lelaki dan berbaju unisex itu perempua. Saya cuma bisa pasrah, minta maaf, dan ngacir pulang. Apalah salah dan dosa hamba, Tuhaaan?

Dan yang paling legend di antara semuanya, terjadi pada lebaran dua atau tiga tahun lalu. Seorang teman sekolah, perempuan dengan bawaan kebutuhan khusus sejak lahir, datang menyambang ke rumah. 

Sejak dulu, saya terbiasa berusaha sabar dan tabah menghadapi dia. Pertemanan kami lumayan awet, sehingga saya selalu tahu kabarnya. Termasuk kabar terakhir yang kurang menyenangkan. 

"Suamiku meninggal wes, Bung. Anakku ndak punya bapak." Dia bercerita pilu. 

Sebagai teman yang baik, saya berusaha agar kesedihannya tidak berlarut-larut. Saya mulai membahas tentang anaknya, dan fase ketika dia melahirkan. Sampai kemudian saya bertanya dengan ceria.... 

"Oh iya, aku waktu lahiran kemarin, langsung dipasang KB IUD di rumah sakit. Kalau kamu pakai KB apa?"

Dia, antara tawa ngakak dan emosi, menyahut dengan segala ketabahan yang dia miliki. Rupanya pemahaman soal itu lebih sampai di pikiran dia yang tidak sepenuhnya normal, dibanding saya. "Buat apa KB kalo ndak ada lakinya, Bungaaaaa!"

🥴

Komentar

Postingan Populer