Antri
Salah satu momen menyenangkan dalam hidup adalah pas baru ngambil uang di ATM. Emak-emak mana , sih, yang enggak suka berkunjung ke ruangan ber-AC dan banyak duitnya. Duitnya orang.
Hampir semua orang pernah merasakan ruangan dingin menyegarkan itu. Enggak kehitung udah berapa kali saya mendorong pintu kacanya yang bertuliskan 'tarik'. Enggak kehitung juga berapa kali lembaran duit merah biru diambil dari situ hanya untuk mampir sebentar doang di dompet. Tapi baru sore itu saya memperhatikan stiker di pintu yang ternyata isinya peraturan masuk ATM.
Ba'da Ashar, saya mengajak Alif jalan-jalan ke ujung gang depan, ke ATM BRI langganan. Banyak banget cobaan menuju ke sana kalau bawa Alif. Salah belok sekali aja, bisa-bisa temu kangen sama kedai Mixue. Tapi enggak salah belok juga tetep ujiannya berenteng-renteng. Ada Alfa Midi, toko roti bolu, bakso Probolinggo yang populer, dan yang terakhir, kedai Rocket Chicken yang ada mainan kapal-kapalnya. Kalau enggak kuat-kuat hati, berangkat pulang ya isi dompet bukannya tambah tebel malah menyusut.
Tiba di ATM, rupanya antrian udah lumayan. Merepetlah Alif yang udah capek jalan sejak tadi. Lumayan, kurang lebih tiga ratus meter perjalanan. Saya sabar-sabarin anak enam tahun itu dengan mengajak bersimpati ke orang-orang yang sudah lebih dulu datang dan menunggu.
"Tuh, orang-orang juga sudah nunggu dari tadi. Berdiri. Semuanya juga capek antri. Semua juga kepingin ambil uang. Alif yang tenang, ya. Tidak apa-apa berdiri sebentar. Kita bersabar seperti orang-orang juga bersabar."
Habis ngomong gini, saya yang tadinya juga capek tiba-tiba enggak capek lagi. Seger rasanya bisa menasihati kebaikan ketika diri sendiri juga butuh. Lagian udah dandan rapi cantik masa mau nge-reog.
Mendapat siraman rohani dari ibunya, Alif berhenti merepet. Dia jadi santai dan berhenti mengeluh. Anak yang bijak memang terlahir dari ibu yang bijak.
"Ibu, gambar apa itu? Kok, seperti helm?" Seperti biasa, ketika mulut ibunya nganggur, Alif akan mulai bertanya-tanya.
Saya memperhatikan apa yang ditunjuk Alif. Sebuah stiker yang ditempel di pintu ATM. Berisi larangan tentang apa yang tidak boleh dipakai atau dibawa masuk ke dalam ruangan ATM.
"Oh, itu gambar helm," jawab saya santai.
"Kok disilang? Berarti tidak boleh pakai helm ke dalam ATM, ya, Ibu?" tanyanya antusias. Antusias berarti suaranya keras dan lantang. Sementara satu antrian di depan saya adalah ibu-ibu bermasker dan berhelm.
"A-ahaa ... ha ... i-iya." Perasaan saya udah mulai enggak enak.
"Terus, itu juga gambar masker disilang, ya, Ibu? Terus kaca mata juga! Kenapa kok ndak boleh pakai helm, masker, sama kaca mata di dalam ATM, Ibu?"
Sampai sini, kalau aja enggak sayang duit, udah saya belokan dia duduk di Rocket Chicken di sebelah.
Dengan agak lirih, saya menjawab sesingkat-singkatnya. "Biar aman."
"Aman dari apa, Ibu? Dari pencuri? Memangnya ada pencuri?" cerocosnya enggak pakai rem.
Sementara saya cuma bisa menunduk, enggak enak sama ibu-ibu sebelah.
"Tidak boleh pakai itu semua biar mukanya kelihatan di kamera di dalam, Nak. Biar jelas siapa yang sedang ngambil uang. Gitu."
"O, begitu, ya, Ibu? Tapi kok orang tadi ada yang pakai helm? Kok tidak apa-apa?" Dia menanyakan orang-orang yang sempat dia lihat sewaktu baru datang tadi.
Padahal Alif cuma nanya, tapi entah kenapa saya merasa lagi ghibah. Dia yang kepo, saya yang merasa berdosa.
"Itu tadi orangnya buru-buru, mungkin. Tidak apa-apa, kok, kalau helmnya tidak ditutup depannya." Sekali lagi saya masih berusaha menjawab secara netral. Padahal dalam hati pingin teriak. "Diam Kauuuuu, Asmuniiiiii!"
Lalu tiba-tiba saja, sebuah suara menyahut....
"Iya, ya, Nak! Tante pakai helm, ya. Seharusnya kan ndak boleh. Kenapaaa ya ini kok Tante pakai helm ya? Gak betul ini. Adek pinter sekali! "
Hiyaaaaa! Itu suara ibu-ibu berhelm di antrian depan!!!
ðŸ˜
Probolinggo, 14 September 2023.
Komentar
Posting Komentar