Anak Neriman



Ramadan kali ini Alif mulai belajar puasa. Momen sahur beberapa kali tidak mudah, terutama kalau menunya tidak cocok. 

"Ibu, Alif ndak mau sayur sama telurnya. Rasanya, kan, pahit! Uhuukk!" Demikian dramanya pagi itu. 

Iya, pagi. Dia sahurnya pukul setengah tujuh.

Tidak cukup dengan hanya protes, si kecil juga menambahkan adegan-adegan pendukung. Awalnya batuk, lalu keselek, lalu dengan dramatis dia memegangi dada dan berlagak mau muntah. Kalau dibiarkan, adegan akan berlanjut seperti drama anak tiri yang diracun oleh ibu sambungnya sampai tergeletak di lantai dengan wajah tertekan.

Sorenya, dari TPQ tempat saya mengajar, kami mampir ke tempat ibu mertua. Beliau memberi sebungkus es blewah untuk berbuka. Dalam perjalanan menuju rumah, seorang teman yang menjual es siwalan memanggil, lalu memberi sebungkus es dagangannya kepada Alif. 

Setibanya di rumah, saya menuang dua macam es tersebut pada mangkuk-mangkuk. Mata bocah empat tahun itu berbinar-binar. Mulut kecilnya ribut berteriak-teriak minta agar waktu berbuka diajukan. 

Nurun siapa, ya, dia, kok begitu. 

Akhirnya, tiba waktunya azan berkumandang. Dengan penuh semangat dia berceloteh di sela kesibukannya memonopoli es siwalan, "Ibu, lihat ini! Alif pinter. Apa-apa, mau. Es ini, mau. Es itu, mau. Roti, mau. Jajan, mau. Apa saja, Alif mau."

😑

Lamongan, 14 April 2022.


Komentar

Postingan Populer