Alif vs Kucing-Kucing Tetangga
Alif vs Kucing-Kucing Tetangga
Jika di tempat tinggal yang dulu saya hidup di tengah serbuan ayam yang bebas berkeliaran, sekarang di sini saya seperti tinggal di peternakan kucing. Enggak ikut punya kucing, enggak ikut melihara apa lagi ngasih makan, enggak ikut ngelus-ngelus bulunya, tapi beberapa kali sudah panen tahinya pas di depan pintu rumah. Bener-bener the real tahi yang hadir di tempat yang tak disangka-sangka.
Tapi karena saya baik, saya ngedumel sendiri sampai pening. Enggak ada komplen-komplen apa lagi teriak-teriak ke tetangga. Lha wong tetangganya emak sendiri. Yang buka peternakan kucing ya mbah-mbahnya Alif itu. Simalakama emang. Ngamuk ntar durhaka, enggak ngamuk jadi penyakit. Inilah saatnya menerapkan ilmu telepati. Biar enggak sia-sia tirakat ngadepin anak ajaib tiap hari.
Lagian buat apa marah dan capek komplen kalau saya punya imam Masjidil Harom merangkap TOA balai desa. Senjata yang biasanya makan tuan, kali ini akan makan emaknya tuan. Pagi-pagi sekali, setelah dongeng pembangun tidur dan sholat subuh, Alif membuka pintu ruang tamu. Bukannya dapat udara segar, dia disambut tahi yang molek bersandar. Seketika baterainya yang full baru di-charge langsung menyala kencang....
"Mbah Utiiiiiiiiiiii!!! Ini kucingnya 'engek' di depan pintu rumahnya Alif! Mbah Uti harus tanggung jawab!"
Uwow! Benar-benar menyuarakan isi hati saya secara sempurna. Wewenang Alif selaku pemangku pangkat cucu tunggal yang masih bocil membuatnya sering dapat privilege kayak gini. Kalau saya yang komplen, alamat sayalah yang bakal jadi tukang nyapu tahi yang mulia sri baginda berbulu. Harkat martabat status saya sebagai anak pertama yang udah sirna sejak adik-adik lahir dulu, kini makin tak berbekas semenjak Mbah Uti mengangkat anak-anak berbulu. Adik bungsu saya aja kalah pangkat. Semua jadi hamba sahaya.
Tapi semenjak pertama kali langkahnya berjalan di sini, Alif sudah menunjukkan statusnya sebagai penguasa baru. Awal-awal, di usianya yang masih dua tahun, Alif takut pada setiap pergerakan para juragan berbulu itu. Tapi itu cuma permulaan, saking belum kenal aja sebab di kota kelahirannya dulu memang jarang sekali bertemu kucing. Seminggu kemudian, kucing-kucing sok itu langsung lari tunggang langgang begitu dengar suara Alif. Sekali-kalinya mereka mencoba mempertahankan wilayah dengan ngotot diam enggak mau pergi, langsung diceburin ke got sama Alif. Narik buntut kucing doang mah terlalu amatir. Jadilah Mbah Uti beserta om-nya Alif bahu-membahu memandikan kucing kesayangan mereka yang tiba-tiba berubah warna, rasa, dan baunya. Najis.
Lagian, kucing-kucing Mbah Uti itu terlalu lama hidup nyaman. Bulu panjang, mesti sering dimandiin, disuntik vaksin, diminumin susu, dikasih makanan khusus kucing yang mahal. Dikasih ikan segar malah muntah. Tapi serius, lincahnya saingan sama Alif. Beda sama kucing-kucing peliharaan yang dulu-dulu banget pernah dipelihara.
Kucing yang dulu, kalau ada tikus lewat, apa lagi sizenya gede, mereka bukannya ngejar malah cosplay jadi bellboy sama resepsionis.
"Silakan, mau ke dapur aja apa mau langsung masuk lemari pakaian sekalian buat yang mau lahiran." Kira-kira begitu sambutannya.
Tapi yang sekarang, meski biaya hidupnya jauh lebih tinggi, kegarangannya terhadap tikus dan ayam tetangga, juara. Sampai curut mungil pun enggak bisa kabur. Ditangkap, digigit, terus dibagiin ke kucing-kucing dhuafa di belakang rumah.
Ayam-ayam tetangga yang biasanya bebas memanen tanaman di belakang rumah, udah jarang banget bisa silaturrahim. Penjaganya bayarannya mahal soalnya. Masuk selangkah, dikejarnya sampai RT sebelah. Beda banget sama kucing yang dulu yang kalau ketemu ayam malah main gaplek bareng, judi, mabuk-mabukan, dan main perempuan.
Dan semenjak ada Alif, kucing-kucing ningrat sering keduluan. Soalnya ayam belum ketemu Alif aja, denger suaranya doang udah mode Corona; jaga jarak aman. Kucing-kucing juga pada bingung mau buang hajat dimana. Mereka enggak bisa ngeruk pasir secara ilegal lagi. Sudah dikeruk Alif duluan buat proyek pembangunan bersama komplotan anak-anak tetangga.
Mungkin sebab itulah para kucing ningrat rumah sebelah menyabotase area depan pintu ruang tamu. Ujung-ujungnya yang kena ya para hamba majikan berbulu. Alif selalu selamat. Sedangkan saya kadang sudah tiba di fase mau bikin plang: Dilarang buang hajat di sini kecuali anjing.
😌
Probolinggo, 13 Agustus 2023.
Komentar
Posting Komentar