Tutorial
Ada masanya, anak-anak punya kebiasaan yang tergolong tidak sopan jika dilakukan di tempat umum. Untuk Alif, saat ini yang bikin emaknya sampai pengen bermuka dua adalah kebiasaan ngupil.
Enggak kurang-kurang saya kalau ngasih tahu soal ngupil ini. Tapi itu tangan udah kayak jalan sendiri. Kalau ada saya atau ayahnya, ya kami bagian ngerem tangannya sebelum tiba di tujuan memalukan itu. Tapi ya gitu, tangannya ditarik, nanti jalan lagi. Ditarik lagi, jalan lagi.
Kadang saya kepikiran mau belikan sarung tinju aja biar jarinya enggak muat di lubang hidung. Tapi sayang duitnya. Nanti bukan cuma tobat ngupil, malah ganti jadi tinju-tinjuan sama nyamuk.
Jadilah saya hanya bisa menasihati dan mencegah. Hidayah hanya milik Allah. Manusia hanya berusaha. Seharusnya saya berdoa juga, sih, tapi ya masa mau berdoa gini...
"Ya Allah, sadarkanlah anak hamba dari dosa ngupil yang hina, ya Allah. Arahkanlah dia ke jalan mengupil yang lurus."
Maka segala cara saya tempuh demi menghapus kebiasaan buruk ini. Dari yang wajar sampai yang bar-bar.
"Alif, jangan ngupil, ndak sopan, jijik," tegur saya ketika mendapati dia mulai ngupil.
"Tapi, kan, kotor, Ibu, nanti jadi susah nafasnya," kilahnya.
"Ya makanya, mbersihkan hidung itu waktu mandi, atau di kamar saja, pakai tisu. Kalau begitu kan jijik! Nanti mau dibuang di mana? Hayoo? Hayooooo?" Kombinasi omelan, nasihat, dan todongan dalam sekali napas.
Soalnya kalau enggak ditodong gini, modus operandinya biasanya bisa ke sprei, dinding, sembarangan ke udara, atau malah sok-sok-an minta disayang. Hilih.
"Sana, ambil tisu!" imbuh saya biar paten.
Alif pun segera mengambil tisu lalu datang sambil enggak terima. "Gimana, sih, Ibu! Masa pakai tisu?"
"Ya bisalah!" Saya menyahut kesal. Setelahnya, dengan terpaksa saya mencontohkan bagaimana mengupil pakai tisu. Simpel tapi dapat menggugurkan kewibawaan kalau kudu dipraktekin di depan orang.
"Sama aja, kok. Ngupil ya ngupil aja, tapi diusapin ke tisu, terus kalau sudah selesai, buang tisunya lalu cuci tangan," jelas saya sesingkat mungkin biar tutorial ini cepet udahan.
Tapi Alif enggak bergerak. Entah paham entah enggak, dia cuma diam melihat.
"Ya sudah, sana mandi. Bau." Ini pengalihan. Ya kali saya ngupil beneran depan dia.
Sepertinya, demi memahami tutorial tadi, dengan sungguh-sungguh Alif berkata, "Tapi, Ibu, Alif mau menghitung dulu upil Ibu ada berapa."
😑
Komentar
Posting Komentar