CIRIGEN
CIRIGEN
Kemarin-kemarin Alif tampil nari/dance di pentas agustusan. Pasukan bocil seperti biasa mainnya anak bawang, selalu didahulukan.
Anak-anak lain, habis nari ya sudah, pulang. Alif? Jangan harap!
"Alif mau nonton sampai selesai!" Pekiknya otewe guling-guling di jalan sebab mau saya seret pulang.
Jadilah Alif dengan takzim menyimak sambutan sampai empat episode sambil ngemil cilok dan kue sus jatah konsumsi. Saya alhamdulillah kebagian lempernya dan beli cilok juga.
Selesai sambutan, ternyata ada acara menyanyikan lagu Indonesia Raya. Penonton dipersilakan berdiri.
Sebagai warga negara yang baik, saya nurut. Berdiri. Sepasukan bapak-bapak naik ke panggung selaku tim paduan suara ala kadarnya. Tidak lupa naik juga seorang dirigen yang merangkap MC juga.
Pas orgen pengiring dimainkan, saya ikut nyanyi. Seperti seharusnya, semua yang bernyanyi mestilah mengikuti arahan dirigen. Hanya saja, sejak permulaan, Mbak dirigen memandu menuju kesyesyatan yang haquiqui.
Dari sekian banyak orang yang khidmat menyanyi, kayaknya cuma saya yang sesat sendiri. Lagunya ke sana, saya ke sono. Padahal saya enggak bisa enggak lihat dirigen. Setelan bawaan saya udah begitu adanya: mengikuti dirigen.
Kayaknya emang semua orang nyanyi mengikuti iringan lagu. Dirigen di panggung kayaknya enggak diikuti. Atau memang sebagian besar orang enggak ngerti.
Tapi saya ikut. Saya nurut. Kok bisa-bisanya sesat sendirian?
Lha gimana, lagu Indonesia Raya biramanya empat per empat. Sementara cirigennya bermazhab insting. Dia pakai hitungan 8 skala richter. Oleng dong saya. Sebab dengan melihat dia, saya tersesat jauh dengan kecepatan cahaya.
Lagu selesai, semua orang duduk. Saya doang yang pegangan kursi, mabuk tempo, lalu menyeret Alif pulang, dan tepar sampai pagi. Merdeka!
Komentar
Posting Komentar