Alif Menabung


ALIF MENABUNG


Setelah belajar dari banyak pengalaman memalukan dan menguras keeleganan seorang ibu, saya sekarang berhati-hati sekali kalau memberi sesuatu kepada Alif. Tapi ya begitu, namanya takdir, tidak bisa dihindari. Maksud hati ingin memeluk gunung, apa daya kaum rebahan. 


Giliran saya hati-hati banget, eh, rumah sebelah malah los dol. Mbah-mbah-nya Alif tidak akan pernah menyangka risiko memberi dompet mainan kepada Alif. Mereka selalu merasa merekalah tokoh protagonis, sementara saya antagonis mata duitan. Saya sih enggak pa-pa jadi tokoh jahat, asal kaya raya. 


Gara-gara dompet keramat itu, kini Alif jadi jarang jajan. Maunya dikasih mentahnya aja. Tutup botol dikumpulin, katanya mau dijual. Kartu hadiah coki-coki dikumpulin, katanya mau dijual. Omelan emaknya dikumpulin, yang ini enggak dijual, tapi dikembaliin tepat pada waktunya. Gede dikit bisa, nih, ganti nama jadi Ismail bin Mail.


Selera Alif soal uang masih sama. Yang penting jumlah lembarannya, bukan totalnya. Jadi, sehari dia nabung sendiri dua ribu. Enggak jajan sama sekali. Tapi saya selalu sedia makanan kecil semacam biskuit atau roti di rumah biar mulutnya enggak nganggur nanyain isi lautan. 


Enam hari ini, uangnya ada dua belas ribu. Empat lembar seribuan dan empat lembar dua ribuan. Yang sepuluh ribu ditukar sepuluh ribuan dia enggak mau. Mindset siapaaa ini yang bikin sesat. Perasaan keberlimpahan harta kekayaannya bisa berkurang ketika lembarannya diganti padahal totalnya sama. 


Nah, harta kekayaan dua belas ribu itu tadi, dibawanya ke mana-mana. Tidur dipeluk, main dibawa, ngaji dibawa. Dompet keramat bahkan udah pernah ngerasain basahnya kolam ikan tetangga. Terakhir pas ada tamu, dompet transparan yang menunjukkan jelas isinya itu melambai-lambai di samping muka si tamu. Saatnya saya cosplay jadi pembantu. 


Dengan berlembar-lembar uang itu, dia merasa bisa beli apa saja yang dia mau. Selain mau beli Transformers yang asli, dia juga pengen beli kapal laut. 


Belum lagi, pas dia sadar sudah mendekati tanggal ulang tahunnya. Dia bahkan sudah bikin pengumuman ke anak-anak tetangga mau bikin pesta meriah besar-besaran di sekolah. Sampai sini saya mulai membuat skrip hilang ingatan sementara ala Dori di Finding Nemo. 


Di malam menjelang tidur, saya berusaha memahamkan bahwa dia lahir di bulan ekonomi kritis. Di bulan di mana waktunya daftar ulang, beli seragam, sepatu, tas, dan kebutuhan sekolah lainnya 


"Kan, Alif baru dibelikan sepatu baru, kan? Seragam baru, baju baru. Malah sebentar lagi insyaAllah dapat tas baru juga," jelas saya mode malaikat yang suka totalan. 


"Wah, iya!" pekiknya ceria. 


Bagus. Pertanda baik. 


"Kalau begitu, Alif belikan celengan, ya, Ibu, ya! Yang bentuk pesawat. Terus, kita naik kereta, muter-muter ke mana saja. Terus, mobil-mobilan di alun-alun itu dibeli dibawa pulang juga ndak pa-pa."


Yang ini pertanda kiamat sudah dekat! 


"Teruuusss teruuusss aja!" Saatnya saya nge-rap menjelang tidur. "Memangnya semua itu ndak mahal apa? Itu, naik kereta itu mau ke mana? Cuma keliling-keliling? Ibu itu mabukan. Terus, mobil-mobilan di alun-alun itu pakai uang apa? Enak aja main bawa pulang. Mahhaaall tauuu!" 


"Kan Alif punya banyak uang!"


"Kurang! "


"Uangnya harus seberapa, Ibu? Sak mobil? Sak kasur? Apa sak rumah ini?"


Yaelah, Le, susah Ibu ngebayangin kalau uangnya dua ribuan semua! 


"Sek, sebentar, uangnya dapat dari mana?" todong saya. Ya kalau halu kan semua juga bisa. 


Enggak pake mikir, anak yang sudah mau enam tahun itu menjawab dengan entengnya....


"Kan Ibu bisa ngemis seperti orang yang Alif lihat waktu ke alun-alun itu."


Otewe bakar alun-alun.


Probolinggo, 21 Juli 2023.

Komentar

Postingan Populer