Ajeng
Suatu siang, saya menemukan akun facebook bernama Ajeng. Melihat mutual friend yang sangat banyak dan kebanyakan merupakan teman-teman masa sekolah Tsanawiyah, saya langsung tahu dialah Ajeng teman sekelas dulu yang berkulit eksotis. Saat itu juga, saya mengirim permintaan pertemanan.
Tidak lama, permintaan diterima. Sebagaimana sewajarnya, saya bertanya basa-basi seputar kesibukannya sekarang, tinggal di mana, masih lajang atau sudah menikah. Selayaknya teman lama yang baru berjumpa, dia menanggapi dengan menyenangkan. Dia pun bertanya balik tentang kehidupan saya sekarang. Kami bahkan menjadi jauh lebih akrab ketimbang saat masih sekolah dulu.
Ramadan tiba dan teman-teman alumni Tsanawiyah mengajak buka bersama. Dengan penuh semangat, saya bertekad untuk datang. Ajeng pun demikian. Tapi, katanya, saat dia bertanya kepada teman yang lain, jadwal Buka Bersama masih belum pasti.
Setelah memastikan kembali jadwal Buka Bersama kepada panitia, saya langsung mengabari Ajeng dan mengajaknya. Sayangnya, hari itu dia tidak bisa ikut karena mengikuti tes TOEFL untuk kebutuhan kuliahnya.
Walhasil, saya pun berangkat sendirian. Tetap dengan perasaan senang karena akan bertemu teman-teman yang sudah lama tidak berjumpa. Setibanya di lokasi BukBer, saya dan teman-teman saling bertukar cerita. Salah satunya, saya bercerita tentang Ajeng.
"Oh iya, dapat salam dari Ajeng. Dia ndak ikut karena ada jadwal tes TOEFL. Biasalah anak kuliahan." Saya bercerita.
"Ajeng? Ngapain dia kuliah? Dia kan sibuk ngurusin anaknya karena baru lahiran?" sahut seorang teman.
"Hah? Maksudnya?" Saya merasa ada yang aneh.
Saat itu juga saya tunjukkan akun facebook Ajeng kepada seorang teman. Dan ternyata, itu bukanlah Ajeng teman sekelas dulu.
Saya pun memastikan ulang dengan bertanya langsung via inbox, "Ajeng, Kamu dulu sekolah Madrasah Tsanawiyah Negri, kan?"
"Bukan, aku SMP 5," jawabnya.
Oke. Saya diam. Saya baik. Saya bermartabat. Saya memblokir Ajeng.
🏃♀🏃♀🏃♀
Lamongan, 24 April 2022.
Komentar
Posting Komentar