NAIK MOTOR
Dua hari berturut-turut, Alif ke sekolah diantar naik sepeda motor. Padahal biasanya juga jalan kaki. Jarak dari rumah ke sekolah enggak sampai seratus meter. Saya bahkan bisa jalan ke sana sambil merem.
Tapi jangankan ke sekolah yang sekarang, ke sekolah yang sebelumnya saja, Alif selalu mencari celah gimana caranya supaya diantar naik motor. Padahal bangunan sekolah pas tepat di depan rumah. Ngegas belum kelar, motor udah sampai duluan. Jangankan sambil merem, sekadar teriak aja, saya sama suara sendiri bisa salip-salipan ke sekolah.
Mungkin begitulah anak laki-laki, ambisi naik motornya tidak mempertimbangkan jarak tempuh. Makanya, kadang ayahnya sendiri terlihat seperti memupuk keinginan anaknya.
"Alif, mau ikut?" tanya si ayah di pagi hari sambil memainkan kunci motor.
Yang ditanya bukan main takjubnya. "Mauuuuuuuuuuuuuuu! Ayah mau ke mana?"
"Mau mengeluarkan sepeda motor," jawab si ayah, enteng, sambil membuka pintu.
Alif mereog, saya ngakak. Indahnya berbahagia di atas penderitaan orang lain. Alif memang bukan tandingan ayah nya.
Nah, di sini, sebab dirinya sudah terlatih, Alif menerapkan kemampuannya kepada Om dan Mbah Kakung.
Korban pertama, Mbah Kakung. Kemarin pagi, kebetulan si mbah kakung ini berangkat kerja agak siangan. Pas timingnya dengan jam Alif biasa berangkat sekolah.
Anak baik, dia menyapa Mbah Kakung yang sudah siap di motor. "Mbah Kakung tahu, ndak, Alif sekolah di mana?" Tanyanya dengan nada ala tebak-tebakan.
Merasa ditantang, Mbah kakung menjawab agak ngegas, "Ya tahulah, masa gitu aja ndak tahu! Di dekat masjid itu!"
Mbah Kakung merasa menang, Alif merasa di atas angin.
"Ya bagus. Kenapa kita ndak berangkat sama-sama saja? Kan, enak!" ucap Alif penuh kemenangan.
Hebohlah TKP penipuan.
"Ooooooooooooooo .... Ya sudah, ayo!" seru Mbah Kakung, gemas.
Saya bertepuk tangan, bersorak di belakang. "Bagooooooosssss!"
Alif pun berangkat dengan bahagia.
Berikutny tadi pagi, Alif menggunakan jurus yang sama untuk om-nya yang mau berangkat kerja. Si om sendiri sudah tahu sebab Mbah Kakung curhat di Lapor Pak versi rumah sebelah.
"Om tahu, ndak, sekolahnya Alif?" tanya mantan penari pinguin itu sambil memasang sepatu.
"Ndak tahuuuuuuuuuu!" seru si om yang ogah dijebak.
Lagi-lagi saya ngakak di belakang. Tapi gara-gara tawa sendiri itulah saya enggak ngerti adegan berikutnya. Yang jelas, akhirnya Alif bahagia lagi berangkat ke sekolah diantar si om naik sepeda motor.
Cuslah, Nak. Kasih tahu om-mu jarak terjauh menuju sekolah.
Komentar
Posting Komentar