BEFORE-AFTER
Pagi yang semestinya syahdu dan teduh tiba-tiba saja gaduh. Ricuh menyaingi ramainya cek sound di sekolah Alif yang cuma beberapa puluh meter saja dari rumah. Saya dan Alif bertarung sengit. Harapan saya tidak banyak. Sekadar agar bisa menempelkan, bahkan kalau bisa meratakan, foundation di wajah anak yang sebentar lagi enam tahun itu.
Dengan segala wewenang emak-emak aktris debus, saya berhasil sampai di tahap memakaikan lipstik dan pensil alis. Selesai. Semestinya kami tinggal berangkat jalan ke sekolah.
Di titik saya lega dan bahagia, Alif memberontak.
"Kenapa Alif jadi seperti perempuan, Ibu? Alif ndak mau! Ndak mau, pokoknya! Huaaaa!"
Dia marah karena melihat wajahnya di cermin jadi mirip ibunya. Lha kan bener, valid dia anak siapa. Padahal saya berusaha menjadikan dia sekadar tampil full HD nanti kalau direkam atau difoto. Biar imut juga sesuai konsep kostum Tari Pinguin yang dia pakai. Kami pun gelut habis-habisan. Emak rasa bapak ya begini.
"Teman-teman di sekolah nanti juga begini, Bro! Laki-laki juga didandanin. Malah ada kumisnya," jelas saya. Meski sebenarnya agak enggak yakin juga.
Tapi dia enggak percaya. Alif menatap ganjil wajahnya di cermin, lalu meraung lagi.
Akhirnya kami berangkat setelah menghapus warna lipstik dan coretan pensil alis di wajahnya.
Tiba di sekolah, giliran saya yang enggak bisa nahan diri untuk enggak ngotot. "Tuuhhh, kaannn! Tuuuhh! Teman-temanmu malah warna-warni semua!"
Gimana enggak, malah ada yang wajahnya sudah kayak wayang orang.
Tapi saya tidak lagi memaksa. Saya putuskan untuk menghargai keputusannya tampil polosan ala anak terlantar.
Tidak lama, Bu Guru memanggil dan membawa Alif ke kelas. Saya cukup nyengir tapi tetap berusaha elegan. Bawalah, Bu, anak itu. Saya tahu apa yang akan Engkau lakukan padanya.
Benar saja, dua menit kemudian, saya menyusul ke kelas. Memantau nasib anak terlantar tadi.
Rasain! Ngelenong, kan, jadinya! Alif diam tak berkutik diwarnai oleh Bu guru.
Ibu memang menghargai keputusanmu, Nak. Tapi Ibu juga lebih menghargai keputusan Bu Guru. Kami para wanita memang punya ikatan batin yang kuat. Dan selalu benar.
Piye kabare? Penak jamanku, tho?
Komentar
Posting Komentar