KUMIS ALIF


Punya anak ternyata membuat saya makin dekat dengan Tuhan. Setiap hari istighfar. Ada saja hal-hal yang membuat saya kembali mengingat Allah, atau minimal kisah-kisah rasul dan para sahabat. 

Kisah bercandanya rasulullah, misalnya. Kalau enggak salah, ada cerita tentang para wanita lansia yang diberi tahu oleh Nabi bahwa di surga tidak ada orang-orang tua. Mereka bersedih, lalu setelah itu dijelaskan bahwa maksudnya kelak mereka akan kembali muda. Rupanya twist ending memang sudah ngetrend sejak jaman dahulu.

Nah, lain hulu, lain seberang. Itu cerita zaman dahulu, inilah yang zaman sekarang ....

"Alif, kenapa kok mukanya digambari kumis begitu?" Mbah Uti bertanya sembari menahan tawa. Fakta bahwa cucunya cosplay jadi bapak-bapak membuatnya seolah menuduh itu hasil didikan saya 

Sementara saya sudah di tahap pasrah. Terserahlah mau dibilang apa dan diapain. Enggak ngerti harus gimana lagi. Dibilangin, sudah. Dibelikan buku gambar, sudah. Mewarbai bareng, menggambar bareng, sudah juga. Tinggal diruqyah aja yang belum.

Malah seringnya saya sudah kayak partner in crime-nya Alif. Ketika bekas spidol itu susah dihapus, saya berusaha menutupinya dengan memakaikan baju-baju panjang. Tapi kali ini, di wajah. Mau dimaskerin kok enggak etis. 

Lagian, Alif enggak malu sedikitpun berangkat ke masjid dengan kumis palsu. Dua mbahnya juga oke-oke saja. Kenapa cuma saya yang terusik di sini?

Alif, lho, selow. Dia ternyata punya alasan yang kuat dan mulia.

"Kan, Alif mau masuk surga. Di surga itu ndak ada anak kecil. Jadi, Alif harus jadi orang besar."

Sesatnya orisinil.

Komentar

Postingan Populer