FOTO SETENGAH BADAN


Kemarin sore, ayah saya duduk-duduk di depan rumah. Saya sendiri beberapa kali lewat di depannya sebab sibuk mengurus cucian. Perlu kewaspadaan tinggi, soalnya sudah sering saya dijegal ayah sendiri. Heran, kok bisa, ya, iseng dan jailnya awet sampai tua.

Sekilas terlihat Mbah Kakungnya Alif itu seperti berusaha selfie elegan ala bapak-bapak. Sebagai anak, sudah tugas saya untuk istighfar banyak-banyak. Padahal mau selfie gimana pun, traffic like di fotonya enggak akan naik.

"Bunga, fotokan Ayah. Dari tadi foto kok merem terus ini gimana."

Saya ngikik, dong. "Kan sudah pakai kamera depan, Yah. Masa masih salah aja kepencet pas merem terus?"

Maklum, mata ayah saya tergolong sipit. Konon, beredar jokes garing bapak-bapak di circle beliau yang membahas soal mata sipit yang kalau difoto selalu merem itu. 

Baiklah, demi nama baik orang tua, saya pun berkenan membantu. "Jadi, gimana? Mau foto setengah badan apa full?" Soalnya yang difoto memang sedang posisi duduk, jadi saya perlu memastikan maunya bagaimana.

"Ya setengah badanlah," jawabnya serius.

Segera saya mengatur posisi dan frame foto agar sesuai permintaan. 

"Iya, tahu, Ayah sipit, tapi ya ndak harus melotot juga," omel saya. 

Bapak-bapak semi embah-embah yang berusaha keras untuk tidak terlihat sipit itu pun tertawa lalu cepat-cepat berpose elegan lagi. Hilih. 

Sat set sat set

Akhirnya sesi foto selesai. Saya segera pamit dan menyerahkan hasil foto. 

Sedetik kemudian ...

"Bungaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!"

Nah, kan, ayah saya memang begitu. Pasti saya akan disalahkan. Padahal beliau sendiri yang minta foto setengah badan. Secara matematis, foto tadi sudah paling simetris dan adil. Memangnya, foto anggota tubuh yang hanya bagian kanan saja itu bukan termasuk foto setengah badan?

Komentar

Postingan Populer