SIGARANING NYOWO 1



Atmaja memeluk erat tubuh istrinya di pangkuan. Wajah wanita itu, seperti selalu, terlihat teduh oleh selarik senyum. Senyum yang biasanya mampu menghangatkan, namun kali itu, justru membuat kedua mata Atmaja memanas. 

Atmaja bukanlah lelaki yang mudah menangis. Dan kali itu, dia pun tidak menangisi kematian istrinya. Hanya saja pundaknya meluruh layu, matanya memerah, dan diamnya semakin diam. 

"Le, anakmu, kok, tidak menangis?" Gayatri, ibunya, sedikit berteriak sambil menggendong  putri Atmaja yang baru lahir. 

Lelaki itu tersadar. Dia lupa bahwa selain istrinya meninggal, dia juga baru saja menjadi seorang Bapak. Hidup memang kadang hanya bisa dicerna satu demi satu.

Bayi itu, seperti bapaknya, juga tidak menangis. Kini dia berada dalam gendongan Atmaja. Kaki dan tangannya bergerak-gerak dalam pelukan lelaki yang masih mengenakan baju koko itu. Atmaja mendekap lebih erat lalu melirihkan azan di telinga kanan dan iqomah di telinga kiri. Setelahnya, bayi perempuan itu pun membuka mata. Hanya membuka mata. Ruangan tetap sunyi seperti sedia kala. 

Atmaja dan ibunya berpandangan lama setelah melihat si bayi membuka mata. Bayi perempuan itu secantik ibunya, berhidung bangir dengan alis tebal dan tegas. Yang membuat mereka terkejut adalah, bayi itu memiliki mata yang Atmaja dan ibunya kenali seperti mata kakek buyutnya, mata sang pewaris.

Gayatri menatap nanar putranya. Mereka menyadari apa yang sedang dan mungkin akan terjadi. Saat udara semakin dingin dan derik jangkrik tidak lagi terdengar, keduanya mengambil kesepakatan hanya melalui anggukan. Dengan gemetar, Gayatri melangkah meninggalkan kamar. 

Gayatri memanggil seorang abdi dan memintanya menyiapkan dengan cepat apa-apa yang dibutuhkan untuk menyelamatkan cucu pertamanya. Cucu yang jika dia gagal menjaganya, maka tamatlah garis keturunan Lahiyang Gumitir. Tidak akan ada lagi cucu-cucu lain yang akan lahir dari anak keturunannya jika bayi itu tidak selamat. Bayi itu, dialah mbarep tunggal yang keramat.

Seekor ayam cemani disembelih. Darahnya ditadah pada sebuah cawan kecil berwarna keemasan. Setampah sesaji telah ditata. Asap kemenyan menyelubungi ruangan, menepuk-nepuk dinding dan menelusp ke lubang-lubang angin.

Di luar, malam telah menua. Bulan tanggal satu hanya mengintip sekilas saat sore menjelang maghrib. Tidak ada bintang. Tidak juga suara binatang malam. Semilir angin berubah menjadi sirep yang menidurkan hampir semua orang. 

Pada malam semacam itu, yang tidak tidur lebih memilih berpura-pura tidak tahu dan tidak ikut campur. Beberapa orang yang ketakutan, menggellar diri di lantai, menyatukan raga dengan bumi agar tidak terimbas bala. Dari kejauhan, angin yang berembus lebih kencang meniupkan suara halus ringkikan kuda dan geledekan kereta. Lampu-lampu jalanan yang jarang-jarang itu pun mati satu per satu bergiliran dari arah gapura. Dusun Kinanti seketika mati ditelan kegelapan.

Gayatri telah siap, meski tidak yakin. Tepat saat ritual akan dimulai, seseorang menepuk bahunya dengan mata semerah saga. Atmaja.

"Kamu yakin, Le?" Gayatri memastikan apa yang akan dilakukan putranya.

Sudah lama lelaki itu melepas diri dari ritual adat keluarganya. Gayatri pun telah lama rela dengan jalan yang dipilih putra kebanggaannya sejak dulu itu. Atmaja tahu banyak tentang apa yang akan dilakukan ibunya. Dia tahu betul, ibunya bukanlah wanita terpilih yang akan siap melanjutkan lelaku bapaknya dulu. Istrinya saja belum disucikan, dia tidak ingin jika sampai dia harus menyucikan jenazah ibunya juga malam ini. Sementara kekalahan yang akan didapati tidak mungkin menyisakan apa pun dari perempuan-perempuan di keluarganya. Ibunya tidak akan selamat, begitu pula bayinya.

"Sebenarnya, Ibu, apa aku punya pilihan?" 

Gayatri diam, tahu putranya benar. Rombongan itu terlalu kuat untuk dipertandingkan dengan mereka, kecuali ....

"Aku bisa melanjutkan lelaku Buyut Lah." Atmaja menekankan nama bapak dari bapaknya, tahu apa yang dipikirkan wanita yang melahirkannya.

Wanita tua itu memandang lama sampai putranya menegur, "Kita harus cepat, Bu!"

Dengan sigap Atmaja menggantikan posisi ibunya yang tertegun-tegun.

Waktu dan kesempatan berkejaran, berbalapan meengambil alih nasib. Gayatri tidak dapat melihat jelas pakaian putranya yang telah berganti. Gerakan-gerakan Atmaja mengabur dalam pandangannya yang tergenang air mata. Hanya suara lirih Atmaja yang menembangkan tembang-tembang lama. Lalu ketukan pintu dari luar, lalu kelebat-kelebat hitam, kelebat cahaya, suara gaduh, keributan, dan teriakan. Teriakan yang entah dari siapa karena dirinya pun berteriak sambil memeluk tubuh cucu dan jasad menantunya hingga gelap menghujam.

***

Rumah Atmaja telah ramai dengan tamu dan para tetangga yang bertakziah. Keluarga istrinya sibuk membantu sejak subuh menjelang, setelah Paklik Rajat memberitakan kabar duka kepada mereka. Tragedi malam itu disimpan rapat oleh dua keluarga. 

"Siapa nama cucu Ibu ini, Le?" tanya Gayatri setelah membedong cucu kesayangannya. 

Wanita itu tampak baik-baik saja meski malamnya sempat kehilangan kesadaran. Dia mengenakan kebaya hitam dengan sewek yang juga berwarna hitam. Seperti biasa, rambutnya panjangnya digelung melebar di belakang. Hanya saja kali ini dia menutupinya dengan sehelai selendang panjang.

Atmaja merenung, menyusuri ingatannya tentang nama yang beberapa kali disebut-sebut oleh mendiang istrinya.

"Rosyida, Ibu. Namanya Rosyida, seperti yang pernah disebutkan ibunya."

Gayatri tersenyum, mengusap-usap kepala cucunya sambil berkali-kali menyebut 'Rosyida'. Dia tahu pasti besannya akan senang dengan nama itu. 

Hari menggelinding cepat ditampa gelap. Malam menjelang larut saat keluarga istrinya berpamitan hendak pulang. Serombongan orang-orang berwajah teduh itu bergantian mengaji di ruang tamu. Mereka tidak hanya datang untuk membantu dan menguatkan, tapi juga menunjukkan penghormatan atas pilihan menantu mereka. Keluarga itu hanya menangis sebentar saja lalu pundak mereka tegak kembali. Mereka melakukan apa pun yang bisa dilakukan orang-orang yang ditinggal pergi. Mata sayu mereka semakin sendu tapi tangannya menguatkan bahu yang lain. Padahal Atmaja sudah siap jika nanti dihujat, tapi begitulah keluarga istrinya. Mereka seperti selalu bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat orang lain. Atmaja tetap diperlakukan dengan mulia sebagaimana mereka memperlakukan anak-anak shalih mereka sendiri.

Hanya tinggal Nashir, adik dari istrinya, yang sepertinya enggan pulang. Pandangannya beberapa kali bertemu tatap dengan Atmaja. Saat semua sudah pulang, dia mendekat, meminta untuk menggenddong keponakannya sebentar.

"Kang, maafkan aku jika ini lancang. Tapi, bolehkan aku dan istriku ...."

"Rosyida akan tetap bersamaku, maaf," potong Atmaja. Adik iparnya menunduk kecewa.

Atmaja tahu apa yang diinginkan Nashir dari caranya memandang putrinya dengan penuh kasih. Pemuda shalih itu hanya ingin menjaga anak dari saudari tercintanya. Kalau bukan karena melihat besarnya kasih sayang yang merebak di kedua mata lelaki itu setiap kali memandang keponakannya, Atmaja pasti akan tersinggung dengan permintaan lancangnya.

Nashir lalu berpamitan pulang, dan meminta maaf sebelum meninggalkan rumah Atmaja. Dipegangnya janji yang sempat dibisikkan Atmaja dengan lirih tadi, sesaat bersamaan dengan bunyi derit pintu yang ditutup, bahwa dia akan menjaga keponakannya seutuhnya, raga dan imannya. 

"Nanti giliranmu tiba juga," ucap Atmaja dengan suara yang kali ini lebih keras, lalu pintu tertutup rapat. 

Nashir pergi dalam dingin semilir angin malam.


*Baca cerita ini lebih banyak di KBM App.

Komentar

Postingan Populer