RACUN NYAMUK
Malam pertama kami tiba di Probolinggo, Alif memulai episode epic ala cucu tunggal yang enggak ada duanya.
"Alif, ayo, sini, dikasih obat nyamuk," ajak si ayah sembari menunjukkan losion anti nyamuk berwarna merah muda.
Ajakan yang wajar, normal, dan biasa-biasa saja itu ternyata memicu kerusuhan di penghujung malam yang melelahkan.
"Apaaa? Ndak mauuu! Nanti kalau nyamuknya jadi sembuh gimana?" Alif mencak-mencak.
Seumur-umur, memang Alif belum pernah kenalan sama penghalau nyamuk jenis ini. Dia sudah terbiasa hidup damai di malam hari dalam kurungan kelambu tidur. Paling mentok, dia hanya tahu senjata keramat andalan ibunya, yaitu raket nyamuk. Atau semprotan nyamuk janji palsu yang konon bisa untuk 30 malam tapi ternyata hanya bertahan dua malam.
Tapi semanjur-manjurnya, dari semua yang ada di muka bumi ini, belum ada obat nyamuk yang bikin nyamuk sembuh.
Teriakan Alif perkara nyamuk sembuh itu begitu keras, emosional, dan menggelegar hingga terdengar ke dapur dan ke luar. Orang serumah ngikik sampai sakit perut.
Tak mau kalah, saya pun menyahuti, "Oh, bukaann! Enggak jadi deh. Ini bukan obat nyamuk, Nak. Ini racun nyamuk."
Bener, kan? Saya enggak salah, kan?
Tapi entah kenapa, bukannya jadi tenang, Alif malah makin syok, "Alif ndak mau dikasih racuuuuunnnnnnn! Ndak mauuuuuu! Nyamuknya saja yang dikasih racun, Ibu!"
Salah saya di mana, coba?
Masa iya saya kudu mengolesi satu per satu nyamuk sebataliyon tempur itu.
Akhirnya, sebagai Ibu yang baik, saya hanya bisa dengan bijak berkata, "Ayo, Nak, sini, Alif dir**un dulu sama Ibu."
Maksudnya diolesi losion anti nyamuk.
Kali ini dua rumah yang ngikik.
Komentar
Posting Komentar