KUNCI
KUNCI
Pada saat-saat tertentu, saya merasa sakti banget. Merasa takjub, kagum, dan terkejut dengan kemampuan sendiri.
Pagi itu, setelah Alif berangkat sekolah, saya ke pasar sembari membawa tiga horcrux. Nyawa saya ada di situ soalnya. Konon ini ilmu sihir hitam yang paling kelam. Setara sama Voldemort, tapi saya lebih mancung.
Ya Allah, bahagia banget dibilang lebih mancung, meski lawannya sekelas dia-yang-tidak-punya-hidung.
Tiga benda itu tak lain adalah ponsel, uang, dan kunci rumah. Sayangnya, pintu rumah saya kayak lebih sakti dari empunya. Tidak peduli kunci sudah muter-muter ke kanan dan ke kiri, pintu itu tetep ngeyel enggak bisa dibuka.
Saya dobrak, eh, sakit sendiri. Dasar, jadi pintu aja sok nyakitin. Dilema saya. Masa sudah cantik tapi gabut nabrakin diri ke pintu.
Akhirnya saya menelpon Suami yang lagi kerja biar pulang dobrakin pintu. Dari pada ngegembel sampai zuhur, kan lumayan duitnya.
Tidak lama, Suami pulang. Dicobanya segala cara untuk membuka pintu, sampai dibongkar segala, tapi tetep enggak mempan. Heran. Ini pintu ke alam lain apa gimana.
"Bentar, deh, Mas." Saya menyela kesibukan Suami yang lagi benerin bongkaran tadi. "Tak coba sekali lagi, ya. Kalau gak bisa ya panggil tukang kunci aja."
Saya pun bersiap. Pasang kuda-kuda, pasang taruhan, berusaha kembali elegan, dan fokus baca mantra. Seriusan baca mantra. Anggap saja itu mantra Avada Kedavra.
Dan, taraa ... pintu terbuka beneran. Meski tautan kuncinya berakhir patah.
Jangankan Suami, saya saja kaget. Saktinya enggak ori ini.
Setidaknya, dari kejadian ini saya jadi menyadari betapa amannya rumah kami. Enggak akan ada ceritanya maling masuk. Lha wong penghuninya saja enggak bisa masuk.
Komentar
Posting Komentar