ASIN



Ramadan ini, Alif belajar puasa. Yang namanya anak kecil, durasi puasa dan frekuensi berbukanya bisa random. Tapi, sebenarnya, bukan itu masalahnya.

Masalah bermula ketika saya memasak nasi goreng dadakan di jam makan siang, ehm, maksudnya, buka puasa siang.

"Alif mau makan apa?" tawar saya penuh semangat.

"Alif mau ayam kispi! Ayam kispi! Ayam kispi! Yee ... ayam kispi!" Belum apa-apa dia sudah euforia. Saya belum ketok palu, dia sudah selebrasi.

Sebagai ibu yang baik, saya pun sepakat. "Oke, Ibu bikin nasi goreng sekarang, ya!"

Ibu yang baik adalah ibu yang pandai memanfaatkan keadaan.

Tidak butuh waktu lama, jadilah seporsi nasi goreng telur yang menggugah. Menggugah iman orang yang puasa. Yang enggak puasa, apa lagi yang ngarepin ayam krispi, ya biasa aja. Ujian hidup kadang emang kita sendiri yang bikin. Dari hasil tangan sendiri.

Saya menyajikan nasi goreng spesial. Syukurlah, Alif mau menerima. Dia makan dengan lahap dan sempat memuji enak juga. Hingga tiba masanya ....

"Ibuuuuu! Asin sekali ini, Ibu! ASIIIIIIINNNNN! ASIIIINNNN ASIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINNNNNNNNNN!" teriaknya, nyaingi teriakan inspektur upacara. Pas banget di rumah sebelah ada ibu-ibu tadarus.

Ini baru semingguan saya di sini, di kota kelahiran. Kalau begini caranya, lebaran nanti saya udah wassalam. Biarlah nanti selepas Sholat Id, Alif saja yang ngider. Saya jaga lilin. 

Mungkin inilah yang dinamakan pesugihan putih tanpa tumbal.

Komentar

Postingan Populer