PUJIAN
Makan siang di keluarga saya seringnya agak mendebarkan. Sebenarnya itu hanya perasaan saya sendiri, sebab memang menu makan siang hampir selalu fresh baru selesai dimasak.
Nah, kali itu, saya memasak semur ala-ala vegetarian. Isiannya berupa telur, kembang kol, dan wortel. Lebih enak lagi kalau ada jamur kancing, tapi di sini tidak pernah ada. Soal lauk, seadanya saja, sih. Kalau adanya caviar, ya dimakan. Adanya daging wagyu, ya dimakan. Adanya daging unta, ya di mana logikanya.
"Gimana? Enak?" Tanya saya kepada kedua lelaki itu.
Entah sudah berapa puluh kali saya memasak semur, tapi tetap selalu saya tanyakan rasanya. Sesungguhnya, ini hanyalah bentuk lain dari meminta pujian.
Si lelaki besar tidak menjawab. Dia melempar jawaban ke anak seperguruannya. "Alif suka?"
Jangan dikira saya tidak tahu trik lawasnya. Dia memang begitu, agak mahal pujiannya. Padahal, itu bisa membuat saya bahagia sampai-sampai memasak menu yang sama selama tiga harian sebab pujian itu.
Giliran si lelaki kecil, dia langsung mengangkat jempol sambil mengumbar pujian, "Enak sekali, Ibu! Siiiip! Alif sampek doyan! Tambah nasi, ya, Ibu!"
Jangankan masakan. Kalau perlu, saya bernapas saja dia akan beri pujian.
Komentar
Posting Komentar