Hapalan Alif


Di usianya yang lima tahun ini, alhamdulillah, Alif sudah hapal nyaris semua doa-doa harian, surat pendek dari An-Nas sampai Ad-Dhuha, dan bacaan-bacaan dalam sholat. Semua itu, insyaallah, tidak terasa berat baginya, sebab selama ini dia hampir tidak pernah menghapalkan. 

Sejak masih baru lahir dulu, saya sudah mulai membacakannya surat-surat pendek. Biasanya rutin saya bacakan di akhir sesi menjelang lelap. Mulanya sedikit-sedikit, lalu kini berkisar sepuluh hingga dua belas surat per malam. Iya, ibunya yang baca. Alif tinggal rebahan menuju mimpi.

Untuk doa harian, saya tidak biasa merapelkan dalam sekali baca, tapi langsung ketika doa itu diperlukan. Bangun tidur, melepas pakaian, masuk kamar mandi, keluar kamar mandi, ketika hujan, petir, bersin, dan seterusnya hingga terakhir doa sebelum tidur. Begitu terus, hapalan itu tepat pada praktiknya, dan menjadi kebiasaan.

Yang agak lain, belajar bacaan sholat. Saya baru mulai menseriusinya setengah tahun terakhir. Kami akan sholat berdua, lalu saya membaca dengan keras setiap bacaan dari niat hingga salam. Karena itulah dilakukannya hanya di sholat yang rokaatnya sedikit.

Awalnya terasa aneh bagi saya sendiri. Khawatir ada tetangga yang dengar juga. Kan, absurd, kalau sampai kedengaran. Nanti malah dikira saya yang belajar sholat.

Hasilnya, masyaAllah, Alif cukup berhasil menghapalnya, meskipun ada banyak drama dilalui.

Seperti yang sering terjadi, saat kami sholat berdua dan bukan di sesi baca bacaan dengan keras. Tahu-tahu Alif bersuara, mempraktikkan bacaannya tanpa diminta. Mau tidak mau, saya jadi menunggu bacaannya selesai. Sholat jadi lebih lama. Meski begitu, semua baik-baik saja sampai tiba bacaan tahiyat akhir.

Dia mbulet di Sholawat Ibrahim. Saya yang baca lirih jadi ikutan mbulet sebab terdistorsi bacaannya. Saya mengulang, dia pun mengulang.

Lalu kami tersesat bareng-bareng.

Penderitaan baru berakhir saat saya nekad berucap lantang, "Fil aalamiina innaka hamiidum majiiid."

Komentar

Postingan Populer