Bola-Bola Cokelat


Saya sering memberi reward setiap Alif selesai melakukan tugas. Apa lagi, jika tugas itu agak berat baginya. Misalnya, belajar bersama dengan saya. Anggap saja ini tugas, mengingat perlu cukup banyak fokus dan kedisiplinan. 

Reward atau hadiah yang dimaksud sebenarnya tidak benar-benar sebuah hadiah, melainkan sekadar penggembira dan apresiasi. Ada kalanya berupa cemilan, permen yupi, bola-bola coklat,  nonton video, dibacakan cerita, ciuman dan pelukan, gendongan, mewarnai bersama, bahkan ucapan terima kasih.

Nah, siang itu, saat saya sedang memasak di dapur, Alif membongkar keresek belanjaan, mencari upeti.

"Wah, ada bola-bola coklat!" serunya kaget, tapi riang.

Saya lebih kaget lagi. Bisa-bisanya lupa mengamankan harta karun berwarna keemasan itu. Biasanya, oleh-oleh dari pasar atau hadiah-hadiah kecil itu saya jadikan kejutan. Agar semua itu tidak jadi pemahaman bahwa setiap ke pasar saya harus bawa oleh-oleh. Juga agar dia belajar melakukan sesuatu bukan selalu sebab iming-iming hadiah.

"Ibu, ini hadiah yang sudah ngaji, tah?" tanyanya hati-hati.

Saya tersenyum mendengar negosiasinya. Berarti dia paham bahwa untuk mendapatkan sesuatu, dia harus melakukan sesuatu. Juga paham bahwa setiap benda itu ada pemiliknya. Harus izin, minta, atau nego.

"Iya wes," jawab saya, sok jual mahal.

"Yeeayyy! Nanti Alif ngaji, ya Ibu. Kan, tadi pagi ndak sempat ngaji." Nego tahap kedua. Saya jadi ingat ayahnya.

"Oke! Nanti kalau Ibu sudah selesai masak, kita makan, terus ngaji, ya. Tapi nanti setelah itu, harus sholat, terus tidur siang lho, ya." Yang ini nego versi saya.

Emak-emak memang tidak menyia-nyiakan kesempatan. Satu kemauan bisa melebar ke mana-mana. Maunya menang banyak dan enggak mau rugi.

"Iya, Ibu," jawabnya lugas.

Alif bahagia, begitu pula saya. Kami pun kembali ke kesibukan masing masing. Alif bermain dengan riang, saya memasak dengan senang.

Tidak lama, Alif kembali ke dapur. Bau-baunya akan ada nego tahap ketiga. Dia menimang bola-bola coklat sembari tersenyum.

"Ibu," panggilnya. "Nanti Alif tidak usah dikasih coklat kalau habis ngaji, ndak pa-pa, Ibu."

Saya kaget bukan main. Ini jauh di luar dugaan. Negosiasi macam apa ini? 

Tidak disangka, setelah sekian lama tarik ulur mental perkara hadiah, akhirnya dia sadar bahwa tidak segala usaha itu langsung ada hadiahnya, bahwa belajar itu demi kebaikan dirinya sendiri. MasyaAllah. Mau sujud syukur, tapi kok ya lagi di dapur.

"Beneran?" Saya berusaha memastikan.

"Iya, Ibu. Ndak usah hadiah, ya, ndak pa-pa."

"Tapi Alif tetep mau belajar, kan?"

"Iya."

"MasyaAllah, anak siapa ini, kok, pinter sekali?" Puji saya sampai lupa diri. Saya yang ngelahirin, saya juga yang nanya anak siapa.

Alif menanggapi dengan hanya tersenyum, sementara saya terus memujinya sampai berbusa-busa.

"Jadi, Ibu ...." Dia memecah euforia ibunya yang mulai alay. 

Saya diam menyimak.

" ... Bola coklatnya dimakan sekarang saja, ya, Ibu. Nanti tidak usah tidak apa-apa."

Kok, gini, sih ....

Komentar

Postingan Populer