TEGA
"Ibu, ini buat Ibu." Alif memberi saya selembar uang dua ribu rupiah.
"Loh, ada apa, kok, Ibu dikasih uang?" tanya saya, penasaran.
Biasanya, jika dapat uang, Alif akan memasukkannya ke celengan rumah-rumahan yang pernah saya buatkan.
"Itu buat Ibu. Ini Alif masih punya." Dia menunjukkan sisa uang di genggamannya. Ada selembar uang seribu rupiah dan selembar lagi dua ribu rupiah.
"Oh, jadi, ini Alif berbagi sama Ibu?" Saya memastikan.
"Iya. Ibu boleh beli apa saja yang Ibu pingin," jelasnya sambil melipat uang miliknya untuk dimasukkan ke celengan.
Saya tertawa kecil. Dia memberi uang dua ribu, seperti memberi seluruh dunia. Meskipun sebenarnya, saya tidak menyangkal bahwa ini terasa jauh lebih berharga dari itu.
Dulu, tidak mudah menerima pemberian dari anak, terutama jika tahu bahwa yang diberikan itu adalah hal yang disukai dan dibutuhkan. Tapi saya tahu bahwa saya harus menerimanya.
"Wah, terima kasih, ya. Alif anak sholeh pinter sekali!" Saya mengelus kepalanya.
"Sama-sama. Ibu senang?"
"Iya, Ibu senang sekali." Ini tidak sepenuhnya jujur, tapi tidak juga bohong.
Saya menerima dengan sedikit haru sekaligus tidak tega. Saya tahu betul dia menabung demi bisa membeli sepeda. Tapi inilah ujiannya, apakah saya bersedia memberi kesempatan anak untuk ingat dan berbagi ketika mendapat rezeki, bahkan jika yang dimiliki adalah kesukaannya.
Kelak, di masa depan, semoga dia terbiasa seperti ini, selalu ingat dengan orang tua dan orang-orang terdekatnya saat mendapat kebahagiaan dan tidak segan berbagi.
Pada akhirnya, selembar uang tadi kembali juga kepadanya dengan cara yang berbeda. Karena begitulah hidup, apa yang diberikan sebenarnya tidaklah mengurangi apa yang dimiliki.
Komentar
Posting Komentar