Suami Anti Nyamuk
Hampir setiap malam, saya tidur sambil menggenggam raket bak para pahlawan perjuangan yang gugur, yang digenggamkan bunga di tangannya.
Dengan begitu, saya bisa segera melibas, kapan pun para betina itu lewat. Meskipun ternyata, nyaris tidak ada nyamuk mendekat. Begitu raket diletakkan, barulah nyamuk sebataliyon menggempur. Saya curiga mereka sudah pernah latihan militer sehingga ahli bergerilya.
Untungnya, ada Suami yang selalu memeriksa apakah anak dan istrinya sudah tidur atau belum. Dia datang dan mendapati saya bermain bulu tangkis sambil rebahan.
"Ini raketnya rusak paling, Mas," keluh saya sembari memberikan raket yang sepertinya tidak begitu berguna itu.
Lelaki itu pun menerima, lalu mencobanya.
Dan ternyata bisa!
Jangankan pakai raket, ayah Alif itu saktinya mandraguna kalau soal nyamuk, dia bisa menangkap nyamuk dengan dua jari saja. Bahkan bisa satu jari, kalau nyamuknya sedang parkir.
Bukannya senang, saya malah makin uring-uringan.
Nyamuk seperti pilih kasih. Sensian dengan saya, tapi cinta mati dengan suami saya.
Jangankan dua jari. Sepuluh jari saja, itu pun sambil lompat sana sini, tidak satu pun nyamuk saya dapat. Menang berisik saja.
Kalau kami berdua sama-sama duduk di antara kepungan nyamuk, maka yang dirubung sudah pasti saya. Mungkin bagi mereka saya lebih seru, sebab akan banyak drama dan keluhan, dari pada lelaki sakti yang diem-diem bae itu.
Giliran Alif ....
"Nyamuknya nakkal! Ibu, kenapa, kok, nyamuknya ndak mau digeprek sama Alif?"
Lamongan, 21 Januari 2023.
Komentar
Posting Komentar