SAYUR SOP


Hari itu, di permulaan petang, seorang teman datang mengantar makanan: sayur sop dengan beberapa potong lontong di dalamnya. Sesumbarnya, dia ingin berbagi kepada para tetangga. Hal yang sudah diumbar-umbar sejak seminggu sebelumnya seolah mau menyembelih sapi. 

"Aku masak sendiri, lho," ucapnya sembari menungguku mengganti mangkuk. Tanpa ditanya, dia menjabarkan segala perkara terkait kandungan gizi pada sayur sop. Cepat sekali bicaranya, seperti tidak ingin menyia-nyiakan waktu.

Dia yang kukenal, benar-benar hanya melakukan apa yang dia mau saja. Prinsip-prinsip hidupnya cenderung aneh, dramatis, dan oportunis. Jika dia memasak, bukan tidak mungkin kolak kacang hijau berkolaborasi dengan mie instan, demi keseimbangan gizi versi isi kepalanya sendiri. Kakakku pernah menjadi korban tester saat sedang sial lewat di depan rumahnya dan dicegat tiba-tiba. Sejak itu, selain menghindari orangnya, aku dan Kakak mulai menghindari rumahnya juga.

Sayur sop itu berusaha kunikmati sebisanya. Meski sebenarnya, hatiku cukup berdebar seperti sedang unboxing LOL Surprise hasil utang.

Suapan pertama, kurasa cukup aman ditelan. 

Suapan kedua, sebutir bawang merah kecil utuh menyembul ke permukaan.

"Sayur sop dibumbuinya dengan bawang utuh?!" cibir kakakku yang sejak awal mengamati. Aku tertawa mengamini 

Waktu bergegas berkejaran dengan harapan. Aku telah berumah tangga dan berada jauh dari kampung halaman. Tidak terhitung sudah berapa ratus kali aku memasak sop dan tidak pernah gagal. 

Hari ini, kali kesekian aku memasak sop. Sayur dan bawang kucuci bersamaan di wadah dengan motif lubang-lubang kecil, diguyur air keran. Aku mengolah seperti biasa. Bahan bumbu diiris lalu ditumis. Kumasukkan air, mendidihkannya, dan terakhir, memasukkan sayuran sekali jalan. Aku dan seluruh penghuni rumah memang lebih suka jika sayuran kami agak lebih lunak dan tidak terasa 'kres' saat dikunyah.

Tidak ada yang berubah, tapi ada yang berbeda. Pada cidukan kedua saat aku mengambil sup yang baru matang, sebutir bawang merah kecil utuh menyembul ke permukaan.  Ingatanku terlempar mundur. Aku menyesali tawaku waktu itu.

Komentar

Postingan Populer