PINTU


Pintu-pintu di rumah Karsih jarang dibuka. Wanita berkulit sawo matang itu menutup pintu belakang sebab sering kemasukan ayam tetangga yang berkeliaran di ladang belakang rumahnya. Sedangkan pintu depan, dia menutupnya sebab rawan tamu tak diundang.

Pintu itu akan lebih lama rapat apabila sedang musim tilik. Beras yang diperoleh segenggam-segenggam itu tidak pernah menyisa di piring, apa lagi di gentong beras yang tidak pernah penuh kecuali di penghujung Ramadan. Dua perut miliknya dan anaknya saja dikenyang-kenyangkannya dengan susah payah. 

Pernah beberapa kali Karsih mencoba membuka pintu, setidaknya pintu depan. Tapi ternyata dia tidak pernah sanggup. Dompetnya menjerit.

Seperti hari ini, saat anak semata wayangnya sudah pergi sekolah, Karsih membuka pintu. Dia lalu duduk di ruang tamu tak berkursi sembari membungkus keripik singkong buatannya. Belum sebungkus selesai, sebuah ucapan salam terdengar. Seorang wanita berbaju jauh lebih bagus darinya, dengan senyum terkembang, datang meminta sumbangan. Wanita itu terlihat membawa buku besar, entah untuk apa, Karsih tak mengerti. Yang Karsih tahu hanyalah tangan wanita itu sedang menggenggam gulungan uang saat menerima selembar uang dua ribu rupiah darinya. Uang terakhir yang dimilikinya. 

Karsih pun segera menutup pintu setelah memasukkan sandal.

Komentar

Postingan Populer