Panggilan Ibu


Dulu, ketika gabutnya Alif sudah enggak ketulungan, dia akan menyebut kata tiga kali. Bloody Mary. Eh, bukan. 

"Ibuuuu! Iiiiiibuuuuuu! Ibuuuaaaaaa!"

Yang begini ini cukup dipantau saja. Biarkan dia berekspresi semaunya. Lagi pula, dari iramanya yang tidak sesuai sikon, juga posisinya yang cuma beberapa senti dari telinga, saya bisa memastikan itu cuma simulasi sinetron saja. Setidaknya, dia enggak nanya-nanya. Betapa saya ini pandai bersyukur.

Mungkin karena lelah atau bosan, lama-lama dia insaf sendiri. 

Tapi jadi ganti ....

"Mamaaaa."

Saya diam. Maaf, password Anda salah.

"Bundaaaa."

Anda belum beruntung. Coba lagi.

"Umiiiiik."

Hmm ... saya mulai ragu dia anak siapa. 

"Emaaaaaakkk!"

Maaf, Anda anak siapa?

"Mamaaaakkk!"

Saya pun beralih ke mode pesawat. Pesawat batu.

Tapi masa itu sudah berlalu. Akhirnya. Alhamdulillah, dia sudah kembali ke setelan pabrik.

Hanya saja ....

"Ibuu ... buu ... buu ... buu ... buu." Dia menggema-gemakan suaranya. Persis sound dengan mode echo los dol. "Kenapaaa ... paa ... paa ... paa ... paa ... Aliif ... lifff ... lif ... lif ... tidaaak ... daak ... dak ... dak ... dibelikann ... kaan ... kaann ... kann ... kan ... lato-latooo ... too ... too ... too."

Komentar

Postingan Populer