NUKI
"Papa Nuki hiilaaang!" ratap anak lelaki berusia tujuh tahun itu sembari berguling-guling di lantai.
Dari jauh, kulihat para guru merayu dan menenangkan. Kulambatkan langkah demi mendengar keriuhan itu.
Papa Nuki mungkin tidak hilang. Bisa jadi, dia hanya terlambat datang. Namun bagaimanapun keterlambatan benarlah sebuah kehilangan, meski tak lama.
Tidak ada murid lain di sana. Tersisa segelintir guru dan Nuki saja. Lengang, namun semarak oleh sebuah kehilangan.
Tidak lama, sebuah mobil datang. Lelaki yang disebut Papa Nuki akhirnya menjemput. Hilang sudah rasa kehilangannya.
Dan aku pun merasa kehilangan. Selintas suara di hati berkata ingin melihat Nuki lebih lama. Di antara semua murid yang ada di sana, rasanya aku paling dan hanya rindu dengannya. Meski aku tidak pernah menyesal berhenti mengajar di sana, sebulan lalu.
Aku tidak sanggup. Benar-benar tidak sanggup menghadapi murid-murid sekolah full day di jam terakhir mereka bersekolah. Setiap jam ekstra itu luar biasa beratnya. Tidak tanggung-tanggung, satu dua murid berani melompati kepalaku saat aku tengah mengajar. Yang lainnya masuk ke kolong-kolong meja, berakrobat, menyisakan seorang anak yang diam. Itu Nuki. Meski dia pun sedang berada di dunianya sendiri. Tidak ada yang peduli kepadaku.
Seminggu cukup bagiku untuk memutuskan resign. Di minggu berikutnya, sebuah suara bertalu-talu dari lantai satu sampai lantai tiga asrama tempatku tinggal, tepat di sebelah sekolah.
"Bu Yunaaa! Bu Yunaa! Mana Bu Yunaa?" Dia menanyai setiap yang ditemuinya.
Aku keluar dan mendapatinya merangkak di tangga menuju kamarku. Melihatku, dia tersenyum, melambaikan tangan, lalu mendekat dan menggamit tanganku. "Bu Yuna, ayo ke kelas Nuki."
Aku tidak menyesal telah berhenti. Tapi tidak mudah menerima bahwa ternyata aku telah membuat seorang anak merasa kehilangan.
Nuki melewatiku yang berdiri di depan pagar. Dari caranya berlalu, singkatnya ingatannya tentangku, dan luasnya dunia di dalam kepalanya, aku tahu dia sudah lupa kepadaku.
Komentar
Posting Komentar