RAJIN
Rabu lalu, saya berniat mencuci di pagi hari. Pakaian kotor sudah disortir dan saya sudah siap dengan seragam tempur: gamis gleyer yang lengan panjangnya dicincing, roknya diikat biar nyincing, kerudung paris di-pin sekenanya lalu ujungnya diikat ke belakang.
Begitu mau mengisi air di mesin cuci, saya teringat sesuatu.Kenapa tidak sekalian nanti saja kalau Alif sudah pulang? Kan seragamnya bisa sekalian dicuci. Jadi tempat pakaian kotor bisa langsung dikosongkan.
Briliant!
Saya pun menunda agenda mencuci. Baru kali ini saya tidak merasa bersalah saat menunda. Kata siapa menunda itu tidak baik?
Menjelang zuhur, Alif pulang. Segera saya menyambut pakaiannya untuk langsung dimasukkan ke mesin cuci bersama pakaian lainnya. Proses mencuci pun dimulai.
Indahnya hidup. Begini saja saya sudah bahagia sekali. Saking senangnya, saya pamer ke ayahnya Alif.
"Mas, aku sudah nyuci. Rajin banget, kan? Bahkan nih, ya, seragamnya Alif yang baru dilepas ini tadi aja langsung tak cuci."
Berbusa-busa saya membanggakan diri. Perkara yang diajak ngomong nggak nyaut, itu urusan belakangan. Yang penting dia tahu. Saya terlalu sibuk dengan euforia dari pada memikirkan suami yang cuek.
Begitu tiba waktunya membilas, saya tertegun. Cepat-cepat saya menyelesaikan membilas sekalian menjemur. Perasaan saya nggak enak.
Meski begitu, saya sempat-sempatkan pamer periode kedua: bahwa saya sudah membilas dan menjemur cucian.
Besoknya, subuh-subuh saya mendatangi jemuran. Letaknya di belakang rumah, di bawah teduhan atap yang dipanjangkan agar jemuran tidak terkena hujan. Tertutup pagar juga. Jadi aman. Maksudnya, aman, tidak ada yang melihat kalau saya sudah seperti maling jemuran.
Dengan segera, saya menyetrika celana seragam setengah basah. Efek hari hujan.
Lalu, ayahnya Alif datang.
Wajahnya terang sekali. Dia memandangi celana seragam anaknya yang seharusnya tidak usah repot-repot dicuci sebab hari ini masih akan dipakai sekolah.
Terbaca jelas di mukanya kalimat: S U D A H K U D U G A.
Komentar
Posting Komentar